Digitalisasi Ubi Cilembu: Dari Desa ke Pelosok Negeri
Cimanggung membawa Ubi Cilembu ke pasar nasional lewat ponsel, membuka peluang baru dan meningkatkan kesejahteraan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
PETANI Cimanggung membawa Ubi Cilembu ke pasar nasional lewat ponsel, membuka peluang baru dan meningkatkan kesejahteraan.
Suasana pertanian tradisional di Desa Cimanggung Kabupaten Sumedang, kini berpadu dengan teknologi digital. Petani yang sebelumnya mengandalkan cangkul dan kerja keras manual, kini menatap ponsel mereka untuk menjual Ubi Cilembu secara live, menjangkau pelanggan hingga ke pelosok negeri.
Kisah itu lahir dari inisiatif Dea Andriyawan (35), pendiri Arunika Ubi Cilembu, yang mengubah cara warga desa berbisnis.
Dengan skema penjualan digital, komoditas lokal yang manis ini bisa langsung sampai ke pasar nasional, memotong rantai distribusi tradisional yang panjang dan sering merugikan petani.
“Warga di sini sudah ketularan jualan Ubi Cilembu pakai bantuan live Tiktok. Itu yang saya lakukan di proses awal membangun usaha ini,” kata Dea saat ditemui di Bandung, Rabu (21/1).
Awalnya, strategi online ini justru menurunkan omzet usaha. Namun Dea menekankan nilai yang lebih penting: pengetahuan yang dibagikan kepada warga.
“Omzet usaha saya memang turun. Tapi, dipikir-pikir, ilmu itu terpakai para warga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Saya sendiri merasa berharga bisa membagikan pengetahuan kepada mereka,” ujarnya.
Kini, penjualan berbalik arah: sekitar 80 persen dijual secara offline dan hanya 20 persen melalui platform digital. Meski begitu, omzet tetap menjanjikan.
Pada Juni–Agustus 2025, Arunika Ubi Cilembu mencatat pendapatan sebesar Rp200 juta dengan kapasitas produksi 20 ton per bulan, dibantu 30 petani mitra.
Skema yang diterapkan Dea menarik minat petani lokal yang sebelumnya trauma akibat praktik tengkulak. Kala itu, panen hanya dibeli seharga Rp2.000 per kilogram. Kini, harga beli ditingkatkan hingga Rp7.000 per kilogram.
“Harga yang ditawarkan, kalau biasanya hanya dibanderol Rp5.000 saya bisa membelinya dengan harga Rp7.000 per kilogramnya,” ujarnya.
Selain membeli hasil panen, Dea membimbing para petani untuk meningkatkan produktivitas. Dengan teknologi modern, satu lahan seluas 1.400 meter persegi yang sebelumnya menghasilkan 800–900 kilogram, kini berpotensi memproduksi hingga 2 ton.
“Padahal, dengan penanaman yang lebih modern, di lahan 1.400 meter persegi itu harusnya petani bisa menghasilkan sebanyak 2 ton. Itu semua harusnya bisa menjadi nilai tambah mereka jika bisa adaptasi dengan teknologi,” sebutnya.
Secara bertahap, penggunaan pupuk organik dan bibit unggul diperkenalkan untuk meningkatkan hasil. Dea juga menekankan kebutuhan akan alat pertanian.
“Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) sangat dibutuhkan para petani. Mereka membutuhkan alsintan seperti traktor rotari yang bisa mempercepat membajak lahan dan drone yang dibutuhkan untuk menyiram,” tegasnya.
Masa tanam Ubi Cilembu sekitar 4–5 bulan, dengan rotasi lahan agar produksi tersedia setiap bulan. Pasar terbesar tersebar di Bali dan Sumatera, serta permintaan luar negeri dari Malaysia, Hong Kong, dan Jepang.
Meski belum ada kelompok tani khusus untuk ubi, skema kemitraan ini menunjukkan potensi besar: digitalisasi dan pembinaan teknologi mampu membangkitkan kembali semangat petani, sekaligus membawa Ubi Cilembu menembus pasar nasional dan internasional. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

