Dari Dapur Sempit ke Mimpi Naik Kelas

Aroma pempek menandai perjuangan Irma Angela Soekma menjaga rasa dan mimpi usahanya.

Dari Dapur Sempit ke Mimpi Naik Kelas
Pempek & Baso Ikan D’JumboJet36 di Kota Cimahi sempat melanglang hingga ke luar negeri, dipesan pelanggan yang rindu cita rasa Palembang. (Istimewa)

AROMA pempek menandai perjuangan Irma Angela Soekma menjaga rasa dan mimpi usahanya.

Peluh masih menempel di dahi Irma Angela Soekma (42) ketika adonan pempek diaduk perlahan di dapur mungil rumahnya di Cimahi Selatan. Di ruang sempit itulah, sejak 2019, dia menggantungkan harapan. Bukan hanya soal penghasilan, tapi juga mimpi untuk naik kelas sebagai pelaku UMKM.

Pamor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memang tak pernah benar-benar padam. Sektor inilah yang berkali-kali menjadi penyangga ekonomi nasional di tengah guncangan global.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional telah melampaui 60 persen.

Sementara itu, Kementerian UMKM menyebutkan, hingga Desember 2024 terdapat lebih dari 30 juta unit usaha aktif di Indonesia, dengan 99,71 persennya merupakan usaha mikro beromzet di bawah Rp2 miliar per tahun. Namun, di balik angka-angka itu, perjuangan pelaku UMKM tetap nyata di lapangan.

Irma adalah satu di antaranya. Bersama sang suami, dia merintis usaha kuliner Pempek & Baso Ikan D’JumboJet36. Dari Cimahi, pempek buatannya sempat melanglang hingga ke luar negeri, dipesan pelanggan yang rindu cita rasa Palembang.

“Ya, gitu. Karena saya melihat ada peluang, akhirnya saya coba-coba membuat pempek yang dipasarkan secara online. Ternyata, alhamdulillah produk buatan saya banyak peminatnya,” ujar Irma saat ditemui INILAH, beberapa waktu lalu.

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Di saat mobilitas warga dibatasi, pesanan justru mengalir deras. Omzetnya sempat melonjak tajam, produksi dilakukan hingga berkali-kali dalam sepekan. Namun situasi itu tak bertahan lama. Kini, setelah aktivitas kembali normal, grafik penjualan ikut menurun.

“Sekarang, omzetnya hanya Rp4–5 juta per bulan. Memang angkanya fluktuatif, tapi angka itu rata-rata setiap bulan. Itu juga kalau pemasaran online dan offline bisa full dilakukan,” katanya.

Penurunan omzet berbanding lurus dengan jumlah produksi. Jika dulu pempek bisa dibuat hingga sepuluh kali dalam sepekan, kini Irma hanya memproduksi satu hingga dua kali saja. Mobilitas yang longgar membuat kebiasaan belanja daring masyarakat ikut berubah.

Meski begitu, ada satu hal yang tak pernah dia tawar: kualitas. Untuk pempek andalannya, ikan laut segar seperti tenggiri atau parang, menjadi syarat utama. Meski harga bahan baku kerap melonjak, Irma menolak jalan pintas.

“Memang banyak yang bilang, kalau ikannya mahal mendingan banyakin aja tapung tapiokanya. Tapi, saran itu saya buang mentah-mentah. Soalnya, saya itu jual pempek, bukan cireng,” ucap perempuan asal Bangka itu.

Dalam sekali produksi, Irma hanya mampu mengolah sekitar tiga kilogram ikan. Bukan tanpa alasan. Semua dikerjakan seorang diri di dapur rumah yang terbatas. Fluktuasi harga bahan lain, telur, tapioka, hingga cabai untuk cuko, juga kerap menjadi tantangan tersendiri.

Kapasitas produksi pun tak bisa sembarangan ditingkatkan. Pempek tergolong makanan yang cepat kedaluwarsa. Meski demikian, dia tetap berusaha menjaga stok agar tak mengecewakan pelanggan.

Di luar urusan dapur, Irma juga mulai menata legalitas usaha. Nomor Induk Berusaha (NIB) telah dikantongi dengan fasilitasi Pemerintah Kota Cimahi. Sertifikasi halal pun sudah ia peroleh.

“Kata fasilitatornya, izin PIRT itu hanya wajib untuk produk makanan yang kedaluarsanya relatif lama. Dikarenakan pempek ini tidak dalam kategori itu dan produknya tergolong siap saji/santap, usahanya tak memerlukan izin tersebut. Yang pasti, produk yang saya buat ini sudah mengantongi sertifikasi halal,” jelasnya.

Digitalisasi belum sepenuhnya dia nikmati. Pemesanan dan pembayaran memang sudah memanfaatkan WhatsApp dan Instagram, namun keterbatasan produksi membuat produknya belum masuk ke marketplace.

“Saat ini, selain berjualan online, saya juga punya kedai kecil-kecilan di sekitar rumah. Jualan offline itu juga untuk nambah-nambah penghasilan juga karena pesanan online via WA dan IG sekarang tidak semassif dulu,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan, Irma merasa tak berjalan sendiri. Dia bergabung dengan Perkumpulan Bumi Alumni (PBA) Unpad, wadah alumni yang menaungi merek kolektif Lupba. Dukungan jejaring inilah yang menjaga semangatnya tetap menyala.

Kisah Irma menjadi potret kecil wajah UMKM Indonesia. Skala usahanya mungkin mikro, tetapi konsistensi dan prinsip yang dia pegang justru mencerminkan semangat hilirisasi pangan dan ekonomi berkelanjutan.

Upaya penguatan UMKM juga datang dari sektor perbankan. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) terus menghadirkan berbagai produk dan layanan yang mudah diakses pelaku usaha.

Pimpinan Divisi Corporate Secretary bank bjb, Herfinia mengatakan, pasar tradisional memiliki potensi besar dalam penghimpunan dana dan penyaluran pembiayaan UMKM.

Melalui program bjb Sambang Pasar, bank bjb membangun pendekatan langsung dengan pedagang dan pengunjung pasar.

“Kehadiran bank bjb secara langsung di pasar menjadi langkah strategis untuk menjangkau segmen tersebut secara lebih efektif,” ujarnya.

Program ini tak sekadar sosialisasi produk, tetapi juga edukasi, konsultasi usaha, hingga pembukaan akses pembiayaan. Dengan langkah berkelanjutan, bank bjb optimistis UMKM dapat terus bertumbuh dan menjadi fondasi ekonomi kerakyatan.

Di dapur kecilnya, Irma kembali mengaduk adonan. Ukuran pempek boleh diperkecil, produksi boleh dibatasi, tetapi prinsipnya tetap sama: menjaga rasa, menjaga mimpi, dan terus bertahan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur