Cuaca Kabupaten Cirebon Landai di Akhir Januari, Warga Kabupaten Cirebon Diminta Tetap Siaga
Warga Kabupaten Cirebon boleh sedikit menarik napas lega. Pasalnya, hingga akhir Januari 2026, kondisi cuaca di wilayah ini terpantau relatif landai. Masalahnya, hujan masih turun, namun belum menunjukkan tanda-tanda ekstrem yang mengkhawatirkan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Warga Kabupaten Cirebon boleh sedikit menarik napas lega. Pasalnya, hingga akhir Januari 2026, kondisi cuaca di wilayah ini terpantau relatif landai. Masalahnya, hujan masih turun, namun belum menunjukkan tanda-tanda ekstrem yang mengkhawatirkan.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda mengatakan, situasi tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas lebih tenang. Namun, ia mengingatkan, ketenangan itu tidak akan berlangsung lama.
"Memasuki awal Februari 2026 hingga sekitar minggu ketiga, potensi cuaca ekstrem kembali meningkat. Masyarakat harus kembali waspada, " ujar Syamsul, Kamis 22 Januari 2026.
Ia menjelaskan, setelah fase cuaca ekstrem tersebut, Kabupaten Cirebon biasanya memasuki masa pancaroba. Pada periode ini, ancaman angin kencang hingga puting beliung kerap muncul dan dapat berlangsung hingga Mei. Kondisi ini sering dikenal sebagai kemarau basah, terlebih jika tidak dipengaruhi siklon besar.
Syamsul menilai, letak geografis Kabupaten Cirebon yang strategis di pesisir utara Jawa Barat menjadi salah satu faktor utama kerentanan bencana. Dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 54 kilometer dan luas wilayah mencapai 990,36 kilometer persegi, Cirebon menaungi 40 kecamatan, 412 desa, dan 12 kelurahan.
Menurutnya, cakupan wilayah yang luas itu membuat potensi bencana alam selalu menjadi perhatian serius. BPBD Kabupaten Cirebon mencatat sedikitnya sembilan potensi bencana yang harus diwaspadai, mulai dari banjir, tanah longsor, rob, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan Gunung Ciremai, banjir bandang, hingga gempa bumi.
"Periode Januari tahun lalu hingga awal Januari tahun 2026 ini tercatat ada sekitar 160 kejadian bencana alam. Dampaknya dirasakan di hampir 100 kecamatan dan 151 desa, " ujarnya.
Ia memaparkan, banjir menjadi bencana paling merusak. Hingga akhir November tahun lalu ada sekitar 8.000 unit rumah terendam, empat rumah rusak berat, 100 rumah rusak ringan, serta 65 rumah ibadah mengalami kerusakan ringan. Tak kurang dari 20 ribu kepala keluarga dan lebih dari 50 ribu jiwa terdampak.
"Banjir paling parah disebabkan kiriman air dari hulu dan sedimentasi Sungai Ciberes yang sudah sangat tinggi," paparnya.
BPBD, lanjut Syamsul telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mencari solusi, khususnya di wilayah Cirebon timur. Normalisasi Sungai Cisanggarung sudah dilakukan, meski belum optimal. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cirebon tengah mengupayakan pengerukan Sungai Ciberes.
Tak hanya itu, normalisasi Kali Pembuang Lebak Putat dan Kali Pembuang Lebak Lamaran juga menjadi prioritas. Tingginya sedimentasi membuat sungai-sungai tersebut tak lagi mampu menampung debit air saat hujan deras.
Dia menambahkan, sebagai langkah jangka panjang, BPBD merekomendasikan penerapan sumur resapan dan biopori, pembangunan sodetan di kawasan DAS padat penduduk, hingga pembangunan bendung (dam) untuk mengendalikan debit air. Kerja sama lintas wilayah pun terus diperkuat, terutama untuk pengelolaan dan pemantauan wilayah hulu DAS.
"Tujuannya jelas, deteksi dini dan pencegahan banjir. Dari sembilan potensi bencana, banjir tetap menjadi ancaman paling serius di Kabupaten Cirebon,” tukasnya.***
Editor : JakaPermana

