Begini Curhat Pemilik The Great Asia Afrika setelah Rekomendasi Penutupan
Pemilik The Great Asia Afrika Perry Tristianto angkat bicara pascarekomendasi penutupan sementara destinasi wisata yang dikelolanya. Dia mengaku kaget, sebab tidak mendapatkan peringatan terlebih dulu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Pemilik The Great Asia Afrika Perry Tristianto angkat bicara pascarekomendasi penutupan sementara destinasi wisata yang dikelolanya. Dia mengaku kaget, sebab tidak mendapatkan peringatan terlebih dulu.
Sebelumnya Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa mengindikasi adanya beberapa hal yang tidak sesuai dengan peraturan pada tempat wisata yang berada di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tersebut.
"Harusnya saya dipanggil dulu. Kenapa saya, salahnya apa. Dilihat dari segi proposal-proposal, kita lihat dulu. Dengan ada pernyataan harus tutup dulu, kita kaget. Harusnya kan emang kita dipanggil dulu, salahna ieu, bisa benerkeun teu. Tapi enggak apa-apa lah. Kita akan meneruskan rekomendasi," ujar Perry, Sabtu (8/2/2019).
Diketahui, terkait lahan parkir menjadi salah satu yang menjadi catatan Dinas BMPR Jabar. Namun, menurut Perry, pihaknya sudah menyediakan lahan parkir kapasitas 400 mobil di kawasan The Great Asia Africa.
Bahkan, dia menambahkan, tersedia pula lahan parkir untuk pengunjung di Farmhouse yang berada di seberang The Great Asia Afrika dengan kapasitas 250 mobil. Selain itu, pihaknya telah menyewa lahan di sekitar kawasan tersebut dan meratakan sejumlah bangunan untuk lahan parkir.
"Tapi kalau yang datang 1.000 mobil, saya tidak tahu. Saya waktu bikin kajian itu, tidak tahu bakal ada 1.000 mobil. Tapi semua sudah disiapkan. Tapi kalau animo lebih dari itu, saya juga bingung," ujarnya.
Mengenai bangunan-bangunan di kawasan wisata tersebut, di mana sebelumnya DBMPR Jabar mengklaim didirikan di sempadan sungai dan di tanah dengan kemiringan di atas 30 derajat, Perry pun mengajak dinas tersebut memantau langsung ke lokasi untuk menyaksikannya.
"Tanya dulu ke kita, kita lihat ke sana, bener tidak. Seperti masalah sungai, itu anak sungai menurut saya. Kan kalau sungai ada namanya. Itu selokan besar. Kalau memang tetap salah, beri tahu kami. Atau apa kita ada pencemaran, justru kita siapkan di hulunya empat orang untuk urus sampah dari hulu," katanya.
Sejauh ini pun, dia mengaku, telah memiliki rekomendasi dari Pemprov Jabar untuk mengembangkan kawasan wisata di Kawasan Bandung Utara KBU. Adapun IMB dari Kabupaten Bandung Barat masih dalam proses karena butuh beberapa kajian lagi, namun dirinya sudah mengantongi resi perizinan tersebut.
"Semuanya kan pakai proses, tapi untuk KBU kami sudah punya. Sisanya masih kajian dan satu kajian saja bisa selesai satu atau dua bulan. Izin (tempat wisata) Farmhouse saja baru keluar 1,5 tahun setelah operasi," katanya.
Mengenai pernyataan DBMPR Jabar yang menyatakan tempat wisata baru ini beroperasi sebelum izin dikeluarkan, Perry mengatakan pihaknya sudah mengantongi rekomendasi KBU. Saat dirinya membangun tempat wisata itupun, pihaknya merasa tidak ditegur pemerintah.
Menurut Perry, rekomendasi penutupan sementara ini ditaksir menjadikan ribuan calon pengunjung batal datang ke The Great Asia Afrika pada akhir pekan ini.
"Kerugian sangat banyak. Nama, dari segi finance, sayakan dari bank. Tapi saya jalanin saja lah. Biasanya kunjungan itu sampai 4 ribu di hari biasa, weekend bisa sampai 1,5 kalinya. Pegawai kami ada 400 orang. Dan hari ini, semua membatalkan tur," katanya.
Lebih lanjut, dia mengaku, pihaknya pun kerap menghardiri pertemuan dengan berbagai instansi pemerintah untun membahas perkembangan The Great Asia Afrika. Salah satunya, yaitu saat membahas kepadatan lalu lintas yang terjadi di Jalan Raya Bandung-Lembang, sekitar kawasan wisata baru tersebut.
Menurut Perry, dirinya sudah menghadiri undangan dari Dishub Jabar dan Polda Jabar untuk membicarakan solusi mengenai kepadatan lalu lintas tersebut. Dari pertemuan ini, akhirnya muncul kajian untuk membuat jembatan penyeberangan orang (JPO) dari Farmhouse ke The Great Asia Africa.
"Kalau ada salah, panggil dulu, tinggal beresin. Seperti JPO, itu ide dari Dirlantas. Kita rapat terus di Dirlantas tentang banyak orang yang menyeberang, kemudian timbul ide JPO ke Farmhouse. Itu sebelum saya buka, baru resi. Pas saya buka, ada kendala macet, baru timbul ide JPO. Karena ada kemacetan, saya suruh bikin JPO. Saya sekarang lagi gambar JPO," pungkasnya. (Riantonurdiansyah)
Editor : Bsafaat


