Belasan Rumah di Perumahan Kota Baru Keandra Cirebon Rusak Akibat Longsor

Sebanyak 15 dilaporkan rusak akibat dampak peristiwa longsor dan penurunan tanah di RT04 RW 08 Perumahan Kota Baru Keandra, Desa Sindangjaya Cirebon.

Belasan Rumah di Perumahan Kota Baru Keandra Cirebon Rusak Akibat Longsor
Sebanyak 15 dilaporkan rusak akibat dampak peristiwa longsor dan penurunan tanah di RT04 RW 08 Perumahan Kota Baru Keandra, Desa Sindangjaya Cirebon./Maman Suherman

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 15 dilaporkan rusak akibat dampak peristiwa longsor dan penurunan tanah di RT04 RW 08 perumahan Kota Baru Keandra, Desa Sindangjaya, Kecamatan Dukunopuntang Kabupaten Cirebon

Dari total tersebut satu rumah mengalami longsor hingga ke arah lereng sungai.

Ketua RT 04, Ikbal, mengatakan keretakan bangunan mulai terlihat sejak November 2025 dan kondisinya terus memburuk hingga awal Februari 2026. Warga telah menyampaikan laporan kepada pihak pengembang perumahan.

"Pihak developer sempat melakukan peninjauan lapangan dan menjanjikan perbaikan. Namun hingga kini belum ada langkah penanganan yang direalisasikan," ungkapnya Senin 9 Februari 2026.

Dia menjelaskan, dari total rumah terdampak, sebagian besar mengalami retakan pada dinding serta penurunan struktur bangunan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga karena kerusakan dinilai terus meluas.

Selain bangunan lanjutnya, akses jalan lingkungan juga dilaporkan mengalami penurunan. Beberapa tiang listrik terlihat miring sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan penghuni.

"Kami meminta pengembang segera mengambil tindakan konkret, tidak hanya pada perbaikan rumah, tetapi juga penanganan infrastruktur lingkungan yang terdampak," jelasnya.

Menurutnya, nerdasarkan informasi yang diterima warga, pihak developer menyebut kawasan tersebut memiliki kondisi tanah labil dan terdapat aliran air di kedalaman tertentu. Namun, warga mengaku belum memperoleh penjelasan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan terkait pernyataan tersebut.

Keluhan serupa disampaikan Gagah, salah satu penghuni Blok Drosia. Ia menilai kerusakan kemungkinan dipicu sistem drainase yang tidak berfungsi optimal serta penggunaan material urug yang tidak memenuhi standar.

Gagah menyebut, selama sekitar dua tahun tinggal di lokasi tersebut, kejadian longsor baru pertama kali terjadi. Dampak yang dirasakan warga tidak hanya kerugian material, tetapi juga tekanan psikologis akibat kekhawatiran akan potensi longsor susulan.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu kepastian penanganan dari pihak pengembang terkait kerusakan yang terjadi di kawasan permukiman tersebut.***


Editor : JakaPermana