Atasi Banjir, Farhan Fokus Perbaikan Drainase dan Pembangunan Kolam Retensi
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan, pentingnya pengelolaan sistem hidrologi yang terintegrasi menghadapi risiko banjir di Kota Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan, pentingnya pengelolaan sistem hidrologi yang terintegrasi menghadapi risiko banjir di Kota Bandung.
Perbaikan Drainase, dan pembangunan kolam retensi merupakan langkah awal. Namun, hal itu tidak cukup jika masalah aliran sungai tidak ditangani secara menyeluruh.
“Kita harus bisa memikirkan sebuah cara, agar aliran sungai dan hidrologinya itu tidak semuanya terbuang ke arah kabupaten. Karena kita juga tidak mau saudara-saudara kita di kabupaten itu, kemudian menilai banjirnya ialah kirimannya dari Kota Bandung. Nah, itu mesti ada pengelolaan hidrologinya yang sama,” kata Farhan, Senin 9 Februari 2026.
Kepala BMKG Jawa Barat, dituturkan ia sebelumnya menyebut curah hujan di Kota Bandung dan sekitarnya tergolong menengah ke rendah. Namun risiko bencana tetap ada. Terutama di daerah yang sudah menunjukkan tanda pergerakan tanah mikro sejak April tahun lalu.
“Rumah-rumah yang memang umurnya sudah lebih rentan, sekarang ini kita sedang waspadai untuk menghadapi risiko bencana longsor di sempadan sungai,” ucapnya.
Sambung ia, beberapa titik rawan banjir dan longsor yang menjadi perhatian pemerintah kota adalah Jalan Cihampelas depan Hotel Grand Tjokro, Rancanumpang dan Cibaduyut. "Di Jalan Cihampelas, kirmir dan Drainase sering longsor meski hujan tidak deras menjadi tantangan tersendiri bagi kita" ujar dia.
Menurut Farhan, selain perbaikan Drainase. kolam retensi juga dibangun untuk menampung aliran air. Namun, ia menekankan keterbatasan solusi tersebut jika sistem sungai tidak dikelola secara lebih luas.
“kolam retensi juga ada batasnya. Kalau sungai itu tidak ada batasnya. Nah, ini bahaya yang sedang kita olah terus sedemikian rupa sehingga masalah banjir bisa diminimalisir,” jelasnya.
Ia juga menyebut pentingnya koordinasi antar wilayah, khususnya pengelolaan aliran sungai di Rancasari yang terkait dengan sungai Cinambo agar air tidak hanya mengalir ke wilayah selatan Kota Bandung dan menimbulkan banjir di kabupaten tetangga.
Selain itu, pemerintah kota terus mengoptimalkan program prakarsa yang sudah merata di 1.597 RW dengan fokus pada pemukiman untuk meminimalisir risiko banjir. Meski demikian, ia mengakui banjir di jalanan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah kota karena masalah Drainase yang belum sepenuhnya terselesaikan.
“Apakah bisa hilang tahun ini? Saya khawatir enggak. Tapi apakah bisa diminimalisir? Insya Allah. Terutama di daerah-daerah pemukiman yang sudah kami sentuh melalui program prakarsa,” tandas dia.***
Editor : JakaPermana


