Dedi Mulyadi Soroti Penebangan Kayu di Garut Selatan, Waspada Ancaman Banjir
Dedi Mulyadi menyoroti maraknya penebangan kayu di Garut Selatan yang mengancam lingkungan dan meningkatkan risiko erosi serta banjir saat musim hujan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti kondisi lingkungan di Garut Selatan yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Maraknya aktivitas penebangan kayu menyebabkan banyak kawasan kehilangan tutupan vegetasi, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap bencana saat musim hujan datang.
Dedi hasil peninjauannya di selatan Kabupaten Garut, banyak area yang sebelumnya ditumbuhi pepohonan kini berubah menjadi lahan terbuka yang kering dan rentan terhadap erosi.
"Sepanjang jalan saya melihat penebangan kayu sangat masif di wilayah Garut Selatan. Beberapa daerah itu sudah sangat terbuka tanahnya dan kering," ujar Dedi, Selasa (8/9/2026).
Menurut Dedi, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemulihan kawasan melalui penanaman kembali pohon harus segera dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan sebagai penyerap air sekaligus penahan pergerakan tanah.
Ancaman kerusakan lingkungan, kata dia, tidak hanya terjadi di Garut Selatan. Kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, juga menghadapi persoalan serupa akibat berkurangnya tutupan lahan. Pembukaan area perkebunan yang masif berpotensi memperbesar debit limpasan air ketika hujan deras mengguyur wilayah pegunungan.
Dampaknya dapat dirasakan hingga ke hilir. Aliran air yang membawa material tanah berisiko mempercepat pendangkalan sungai dan memperparah kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
"Ini juga akan menjadi potensi bencana di saat musim hujan nanti di wilayah Bandung Selatan, termasuk banjir karena nanti gerusan air dari Pangalengan bisa mengalir ke sungai-sungai dan kemudian terjadi sedimentasi yang sangat tinggi di Citarum," ucapnya.
Selain menyoroti dampak ekologis, Dedi juga mengkritisi aktivitas pengangkutan hasil tebangan yang menggunakan kendaraan bermuatan besar. Menurutnya, beban kendaraan yang melampaui kapasitas akan mempercepat kerusakan infrastruktur yang dibangun menggunakan dana publik.
Ia mengaku menemukan sejumlah truk pengangkut kayu dengan tonase yang sangat tinggi, saat melintas di wilayah tersebut.
"Tonase mobil pengangkut kayunya sangat luar biasa. Bebannya sampai saya lihat ada yang 20 ton, ada yang 30 ton. Tentunya ini akan menjadi cepat rusaknya jalan dan jembatan," katanya.
Dedi menegaskan, perlindungan lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memanfaatkan sumber daya yang ada secara bijak agar tidak menimbulkan persoalan baru di masa mendatang.
"Mari kita tata alam tanah Sunda ini dengan cinta dan rasa karena di sini tempat kita tinggal dan di sini tempat kita menjalani kehidupan," tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

