Bentuk Tim Pemeriksa Hewan Kurban, Dispernakan KBB Minta Pedagang Sertakan SKKH
Jelang perayaan Iduladha 1445 H, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) membentuk tim pemeriksaan hewan kurban.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Jelang perayaan Iduladha 1445 H, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) membentuk tim pemeriksaan hewan kurban.
Pembentukan tim pemeriksa hewan kurban itu dibentuk guna memastikan kondisi hewan kurban dalam kondisi sehat pada hari H Iduladha 1445 H nanti.
"Kami telah membentuk tim pemeriksa hewan kurban yang diisi sekitar 42 orang," kata Plt Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Apriyanti melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dr Acep Rohimat belum lama ini.
Acep menyebut, ke-42 terdiri dari 11 orang dokter hewan dan 31 paramedis. Mereka bakal bertugas untuk memastikan kondisi hewan kurban dalam keadaan sehat.
"Untuk persiapan kurban tahun ini kita sudah membuat sebuah tim untuk pemeriksaan hewan kurban," sebutnya.
"Kita memperhatikan imbauan dan surat dari Kementerian Pertanian tentang persiapan pemeriksaan hewan kurban tahun 2024," sambungnya.
Rencananya, ungkap Acep, pemeriksaan terhadap hewan kurban tersebut bakal dilakukan mulai dilaksanakan pada 1-16 Juni 2024 mendatang.
"Kalau masyarakat mau vaksinasi mau memeriksa kesehatan hewan masih jalan. Jadi bukan hanya momen kurban saja pelayanannya tapi setiap hari kita melaksanakan," ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga bakal mengoptimalkan pengawasan terhadap pergerakan lalulintas hewan yang terjadi selama Iduladha 1445 H mendatang.
"Kami tidak membatasi, hanya saja meminta para pedagang yang memasukkan hewan kurban dari luar kota/kabupaten ke Bandung Barat harus menyertakan surat keterangan kesehatan hewan atau SKKH," paparnya.
Sejauh ini, Acep mengakui belum menerima laporan adanya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) maupun lumpy skin disease atau LSD di wilayahnya, namun pihaknya tetap menjaga kewaspadaan.
"Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada laporan, tapi kita tetap waspada karena yang namanya virus tidak ada obatnya," ujarnya.
"Salah satunya, peternak harus menjaga kondisi tubuh hewan yang harus sehat," sebutnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana


