INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyambut baik rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang bakal memukul rata harga LPG 3 kilogram (KG) subsidi atau gas melon di seluruh Indonesia.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Nining Yuliastiani mengatakan, apabila kebijakan ini diterapkan, diharapkan akan memberikan kepastian
harga, juga mengarahkan subsidi yang diberikan tepat sasaran.
“Penerapan satu
harga LPG bersubsidi seperti penerapan seragam
harga pada BBM di SPBU akan menghindarkan variasi/perbedaan
harga yang lebih tinggi dari
harga yang ditetapkan,” ujar Nining, Kamis 3 Juli 2025.
Dia menjelaskan, selama ini di pasaran terjadi perbedaan
harga, karena alasan biaya tambahan untuk distribusi dan ketidakpastian fluktuasi
harga.
“Kebijakan ini juga menghindari atau mengurangi konsumen yang tidak berhak memanfaatkan LPG bersubsidi yang berdampak subsidi menjadi kurang tepat sasaran,” ucapnya.
Namun menurut Nining, yang perlu diantisipasi atau disiapkan sebelum kebijakan ini direalisasikan adalah, penyediaan sarana prasarana dan perangkat yang diperlukan, terutama terkait titik lokasi penerapan kebijakan LPG bersubsidi satu
harga. Lalu jaminan masyarakat yang berhak dapat mengakses dengan muda.
“Prinsip keadilan, seringkali
harga elpiji di lapangan bervariasi melebihi
harga yang ditetapkan sehingga subsidi tidak tepat sasaran juga agar ada kejelasan sistem distribusinya,” kata Nining.
Sebelumnya, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan
harga LPG Tabung 3 Kg,
harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg ditetapkan oleh pemerintah daerah (pemda) masing-masing.
Namun, penetapan
harga oleh Pemda itu harus berdasarkan pedoman dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian ESDM dan BPH Migas.
Oleh karena itu, besaran HET LPG 3 kg selama ini bisa berbeda-beda di tiap provinsi atau kabupaten/kota. Menteri Bahlil menilai hal ini malah menjadi celah untuk oknum memainkan
harga LPG 3 kg. Padahal, negara telah menggelontorkan dana subsidi puluhan triliun rupiah.
***