Disperindag Jawa Barat Ungkap Penyebab Harga Cabai Rawit Merah Meroket
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani mengakui, dalam kurun waktu satu bulan terakhir terjadi kenaikan sejumlah komoditas pokok di Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani mengakui, dalam kurun waktu satu bulan terakhir terjadi kenaikan sejumlah komoditas pokok di Jabar.
Harga yang naik signifikan di Jabar kata Nining, antaranya minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah dan cabai rawit merah. Namun yang paling mencolok, kenaikan terhadap komoditas cabai rawit merah.
Di mana kenaikannya meroket tajam, hingga 93,99 persen. Dari yang semula di kisaran Rp34.100, dalam satu bulan terakhir tembus di Rp66.150.
"Walaupun sebenarnya kenaikan mereka ini masih dalam range yang oke, untuk kemudian tidak terlalu berdampak, kecuali cabai rawit merah," ujar Nining saat dihubungi INILAH, Kamis 4 Desember 2025.
Penyebabnya kata dia, karena ketersediaannya mulai berkurang lantaran pasokan dari petani menurun akibat terganggu oleh cuaca. Sementara permintaannya sejauh ini masih tetap tinggi, sehingga memengaruhi harga.
"Terganggu, curah hujan tinggi banget. Sedangkan kebutuhannya tinggi," ucapnya.
Guna mengintervensi harga, Disperindag Jabar bersama pemerintah kabupaten/kota akan berupaya melakukan koordinasi intensif dengan para petani, seperti dari Kabupaten Bandung.
"Skema yang dilakukan untuk mengembalikan harga, yakni dengan memastikan ketersediaan produksi dan distribusi," katanya.
Sedangkan komoditas lain yang mengalami kenaikan, Nining mengaku situasinya masih terukur. Meski demikian, langkah antisipasi telah dilakukan seperti memastikan rantai pasok dan distribusi lancar.
"Kita juga sudah mengusulkan membuat sistem informasi untuk bisa men-tracking dari produsen ke distributor sampai ke pasar, untuk lebih memastikan nantinya ke depan," katanya.
Sementara menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Disperindag Jabar telah berkoordinasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk memastikan ketersediaan beras dan gula pasir.
Sebab diyakini bakal terjadi peningkatan intensitas masyarakat dalam konsumsi di ke dua momen tersebut.
"Gula pasir ini kan luar biasa nanti. Nataru banyak yang memasak-memasak. Kemudian daging ayam dan telur, ini juga kita kontrol terus, baik di lapangan ataupun kemudian di tingkat hulunya kita cek terus," ujarnya.
Sedangkan terkait komoditas lain seperti daging sapi, telur, tepung terigu, kedelai dan bawang putih, saat ini kata Nining cenderung stabil bahkan ada yang menurun harganya.
Meski demikian, langkah antisipatif tetap dilakukan guna mencegah terjadinya kenaikan harga di akhir Desember 2025 ini.
"Aman. Tapi kita tetap antisipatif. Mulai melakukan mitigasi, karena tingkat kebutuhannya tinggi," ucapnya.
Pemprov Jabar melalui Disperindag bersama stakeholders lain kata Nining, akan terus melakukan pengawasan guna menjaga stabilisasi harga dalam pengendalian inflasi.
"Kita tiap hari melakukan pemantauan terhadap kenaikan harga di semua wilayah kabupaten/kota melalui informasi dari pasar rakyat yang ada. Dan kita melakukan analisa terhadap pergerakan harga yang ada, melakukan identifikasi sehingga kami bisa mengetahui mana yang memiliki kerentanan terhadap peningkatan yang signifikan dan lain sebagainya," tandasnya.***
Editor : JakaPermana

