Berkata Sesuai Tempatnya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Ada kaidah dalam bahasa Arab yang menyebutkan: li kulli maqâm maqâl wa li kulli maqâl maqâm. Maknanya adalah setiap perkataan itu ada tempat terbaik, dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula. Tidak setiap kata sesuai di setiap tempat. Pun sebaliknya, tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan yang diucapkan. Hati-hati sebelum kita bicara, dan ukurlah kemampuan menangkap perkataan dari orang yang kita ajak bicara.
Berbicara dengan anak kecil tentu jauh beda caranya, dibandingkan ketika berbicara dengan orang tua. Berbicara dengan remaja tentu jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita. Orang yang tidak terampil membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya bisa jadi kurang benar.
Perhatikan saja, misalnya, ketika kita berbincang dengan keponakan yang masih kecil. Betapa kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan dunianya. Gerakan tangan kita, raut muka kita. Mengapa? Hal ini karena ia tidak mungkin mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang tua. Tetapi, tentu tidak mungkin memperlakukan guru kita dengan cara yang sama seperti kita berbicara kepada keponakan.
Oleh karena itu, niat untuk berdakwah dengan mengetahui dalil-dalil al-Quran, memahami dan mengetahui banyak hadis, belumlah cukup. Sebab, kalau kita berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya hanya dengan mengobral dalil, atau sekadar menunjukkan banyaknya hafalan, tidaklah cukup.
Saat situasi orang berkumpul pasti punya kondisi mental berbeda. Ada yang sedang gembira, yang tentu saja berbeda daya tangkapnya dengan yang sedang dilanda kesedihan. Ada yang sedang menikmati kesuksesannya, dan tentu saja berbeda dengan yang sedang menghadapi masalah dalam hidupnya. Karena itu, orang yang sehat berbeda kemampuannya dalam menangkap ide dengan yang sedang sakit. Pun yang sedang dalam kondisi ceria, berbeda kemampuannya memahami sesuatu dengan yang sudah lelah lahir-batin. Seorang pembicara yang baik tidak cukup hanya terampil berbicara benar, tapi juga harus sangat bisa memilih situasi dan kondisi kapan ia berbicara.
Mengapa banyak nasihat orangtua yang tidak didengar anak remajanya? Saya khawatir orangtua merasa benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca situasi dan kondisi anak yang sedang diajak bicara, yang mungkin sedang labil. Memang aneh kita ini, ketika anak masih kecil, orangtua akan berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat dipahami oleh si kecil. Tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan usia, perpindahan masa, orangtua tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi anaknya. Karena itu, kita perlu ilmu dalam mendidik keluarga, sebab dengan ilmu yang memadai setiap orang dapat berwibawa di depan keluarga.
Subhanallah! Ada banyak cara berkomunikasi, dan berbahagialah jika kita diberi keterampilan Allah untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan tempatnya. Kita berdialog dengan petani, tentu saja dialognya berbeda dibandingkan saat berdiskusi dengan seorang eksekutif. Saat kita berada di lingkungan santri yang fasih berbicara bahasa Arab, tentu saja berbeda ketika harus berdialog dengan orang-orang di pasar yang mungkin tidak mengerti bahasa Arab. Seorang dai, misalnya, kalau orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengumbar dalil, melontarkan kata-kata yang tidak bermakna. Tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya jika kita meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Suatu ketika Umar ibn Khaththab bertemu dengan Abu Hurairah, lalu Umar bertanya, “Mau pergi kemana engkau, wahai Abu Hurairah?”
“Aku mau ke pasar, akan aku umumkan apa yang kudengar dari Rasulullah saw,” jawab Abu Hurairah. “Apa kata beliau?” Umar bertanya lagi.
“Setiap orang yang mengucapkan kalimat lâ ilâha illallâh, ia pasti masuk surga,” tutur Abu Hurairah.
"Tunggu dulu, wahai sahabat,” cegah Umar. Kemudian Umar bin Khaththab pun pergi menemui Rasulullah, dan bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah benar engkau bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah)?” Rasul pun mengiyakan. “Tetapi, wahai Rasul, saya keberatan kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang karena khawatir akan disalahpahami penafsirannya.”
Mendengar keberatan Umar itu, Rasul pun tercenung, lalu sesaat kemudian bersabda, “Ya, aku setuju dengan pendapatmu.” Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di pasar.
Demikianlah, perkataan Abu Hurairah ini tidak salah, sesuai dengan kenyataan. Namun, dikhawatirkan yang mendengarnya salah dalam memahami maksudnya, karena diucapkan tidak pada tempatnya.
Karena itu, berhati-hatilah saat kita berbicara. Sesuaikan perkataan kita dengan kondisi dan situasi yang dihadapi. Jangan asal bicara, meski yang disampaikan adalah kebenaran. Mudah-mudahan Allah membimbing kita agar menjaga lisan ini tetap dalam kebaikan.
Editor : Bsafaat

