Blok 1 Pasar Sehat Soreang Sepi Pengunjung, Ratusan Kios Tutup dan Sulit Disewakan
Nasib pedagang di Blok 1 Pasar Sehat Soreang, Kabupaten Bandung, kian memprihatinkan. Sepinya pengunjung membuat banyak kios tutup dan usaha gulung tikar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Nasib pedagang di Blok 1 Pasar Sehat Soreang, Kabupaten Bandung kian memprihatinkan.
Sepinya pengunjung membuat banyak kios tutup, usaha gulung tikar, bahkan sejumlah pemilik terpaksa menjual atau menyewakan kios yang mereka beli dengan harga ratusan juta rupiah.
Kondisi tersebut dirasakan Suhana (74), pedagang yang telah berjualan di Pasar Soreang selama 30 tahun. Menurutnya, sejak Pasar Sehat Soreang diresmikan pada 2023, aktivitas perdagangan di Blok 1, khususnya lantai 1 dan 2, tak kunjung ramai.
Bahkan, banyak kios yang sempat beroperasi selama beberapa bulan akhirnya kembali tutup. Sebagian lainnya tidak pernah digunakan untuk berdagang sejak pertama kali dimiliki.
“Blok 1 ini terpisah dengan Blok 2 yang menjual kebutuhan pangan seperti sayur-mayur, ikan, daging dan lainnya. Di sini khusus pakaian, kosmetik, makanan ringan dan kue-kue. Karena terpisah, pengunjung tidak ada yang lewat ke sini,” kata Suhana kepada INILAHKORAN, Selasa (27/10/2026).
Menurut Suhana, pemisahan blok dagangan membuat arus pengunjung terkonsentrasi di Blok 2. Sementara itu, pedagang di Blok 1 harus bertahan dengan jumlah pembeli yang jauh lebih sedikit.
Dampaknya bukan sekadar omzet yang merosot. Suhana mengaku melihat sejumlah pedagang mengalami kerugian hingga bangkrut. Bahkan, ada yang terpaksa menjual rumah dan kendaraan untuk bertahan hidup.
“Dulu di kios lama, tembakau bisa habis beberapa bal dalam sehari. Sekarang, satu bal saja belum tentu habis dalam seminggu. Begitu juga sandal, dulu sehari bisa habis satu sampai dua bal, sekarang selusin saja belum tentu,” tuturnya.
Penurunan omzet juga sangat terasa. Saat masih berjualan di Pasar Soreang lama, Suhana mengaku bisa meraup omzet hingga Rp4 juta sehari. Kini, memperoleh Rp100 ribu dalam sehari saja sudah dianggap cukup baik.
Karena kondisi tersebut, ia memangkas jam operasional tokonya. Jika dahulu berjualan mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB, kini ia hanya membuka kios dari pukul 07.00 hingga 13.00 WIB.
“Kalau sepi, mau dipaksakan buka juga malah menambah pengeluaran. Setiap hari harus bayar retribusi Rp3.500 per kios,” katanya.
Suhana mengaku masih bertahan karena memiliki sejumlah pelanggan tetap yang rutin membeli tembakau. Namun, jumlah pelanggan tersebut terus berkurang.
Kondisi berbeda terlihat di Blok 2 yang lebih ramai. Menurut Suhana, sejumlah pemilik kios di Blok 1 bahkan memilih menyewa tempat berjualan di Blok 2 demi mendapatkan pembeli.
Di tengah sepinya aktivitas perdagangan, persoalan lain membayangi pemilik kios di Blok 1. Selain kehilangan pendapatan, mereka harus menanggung beban investasi yang tidak sedikit.
Suhana mengatakan, kios berukuran 3 x 3 meter persegi miliknya dibeli dengan harga total Rp125 juta melalui pembayaran secara bertahap. Harga tersebut, menurutnya, relatif murah dibandingkan kios berukuran sama yang dibeli pedagang lain dengan harga lebih dari Rp180 juta.
Beruntung, cicilan kios milik Suhana sudah lunas. Namun, sejumlah pedagang lainnya masih memiliki kewajiban cicilan kepada bank yang bekerja sama dengan pengembang pasar.
“Alhamdulillah, kios saya sudah lunas. Kalau yang lain banyak yang masih mencicil. Karena sepi, tokonya tidak dibuka. Banyak juga yang mau menyewakan, tetapi susah mencari penyewa,” ujarnya.
Bagi Suhana, persoalan utama Pasar Sehat Soreang terletak pada penataan lokasi perdagangan yang dinilai tidak mendukung pergerakan pengunjung secara merata.
Dia berharap pengelola pasar dan pemerintah daerah mengevaluasi konsep penataan pasar agar pedagang di setiap blok memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan pembeli.
Menurutnya, pasar tradisional semestinya menggabungkan berbagai jenis dagangan dalam satu alur yang mudah dijangkau pengunjung, sebagaimana kondisi Pasar Soreang lama.
“Kalau pasar yang dulu, dagangannya bercampur. Setiap kios bisa berdagang apa saja dan tidak diatur berdasarkan peruntukannya seperti sekarang,” katanya.
Bagi pedagang seperti Suhana, Pasar Sehat Soreang seharusnya menjadi tempat untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis puluhan tahun. Namun, ketika pengunjung tak kunjung datang, kios yang dibeli dengan harapan menjadi sumber penghidupan justru berisiko menjadi beban ekonomi.
Kini, para pedagang Blok 1 masih menunggu solusi agar pasar tidak hanya berdiri dengan bangunan yang tertata, tetapi juga kembali hidup sebagai pusat aktivitas perdagangan masyarakat.
Editor : Doni Ramdhani
