Pasar Kembang Sepatu Kian Sepi, Agus Tetap Genggam Harapan

Di sudut Pasar Kembang Sepatu, tepatnya di antara kawasan Jalan Kembang Sepatu dan Jalan Terate, Kota Bandung, Agus (56) masih setia membuka lapaknya setiap hari.

Pasar Kembang Sepatu Kian Sepi, Agus Tetap Genggam Harapan
Di sudut Pasar Kembang Sepatu, tepatnya di antara kawasan Jalan Kembang Sepatu dan Jalan Terate, Kota Bandung, Agus (56) masih setia membuka lapaknya setiap hari.

INILAHKORAN.ID - Di sudut pasar kembang sepatu, tepatnya di antara kawasan Jalan Kembang Sepatu dan Jalan Terate, Kota Bandung, Agus (56) masih setia membuka lapaknya setiap hari.

Dari pukul tujuh pagi hingga tujuh malam, ia menata sepatu-sepatu dagangannya mulai dari buatan Cibaduyut dan Tangerang hingga sepatu bekas yang masih layak pakai. Semua ia susun rapi dengan harapan ada pembeli yang singgah.

Dulu, usaha ini cukup membuatnya bernapas lega. Dalam sehari, lima pasang sepatu bisa terjual bahkan sering lebih. Namun perubahan zaman, dan meningkatnya tren belanja online membuat kondisi pasar tIdak lagi sama.

“Jualan sepatu sekarang lagi sepi. Kadang ada yang membeli, kadang enggak,” kata Agus, Senin 8 Desember 2025.

Penurunan itu, ia rasakan sejak masa pandemi. Pembeli dari luar kota yang dulu menjadi andalan, kini tidak seramai dulu. “Semenjak covid sampai sekarang. Mungkin karena ekonomi kita lagi kaya gini juga. Kalau dulu, pembeli dari luar kota semua pada ke sini. Sekarang ya ada juga, tapi enggak kayak dulu,” ucapnya.

Kondisi pasar pun ikut berubah. Kios-kios yang dulu penuh, kini jauh berkurang. “Kalau dulu ada sampai 60 kios. Sekarang mungkin angkanya ada di bawah 40,” ujar ia sambil memandang deretan kios yang tampak lebih lengang.

Meski tak selalu mudah, Agus memilih bertahan. Ia berpegang pada rasa syukur, dan keyakinan bahwa rezeki bisa datang kapan saja. “Ya mau gimana lagi, banyak bersyukur saja. Namanya usaha seperti itu, kadang ada kadang enggak. Tinggal kita tekun dan sabarnya saja,” lirihnya.

Sepatu yang ia jual cukup beragam, mulai dari sepatu formal hingga sepatu olahraga. Sesekali ada orang yang datang menjual sepatu karena membutuhkan uang, dan Agus dengan cermat memilih mana yang masih layak dijual kembali. Harga yang ia tawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 250.000.

Di balik kesederhanaannya, Agus merupakan ayah dari empat anak yang semuanya sudah berumah tangga. Meski anak-anaknya kini mandiri, ia tetap memilih berdagang sepatu. Pekerjaan yang telah ia tekuni bertahun-tahun, dan mengajarkannya untuk menerima keadaan sambil terus berusaha.***


Editor : JakaPermana