Revitalisasi Malah Hancur, Pasar Palimanan Sepi dan PAD Anjlok

Kondisi Pasar Palimanan di Kabupaten Cirebon kini sepi dari pembeli bahkan para pedagang pun sudah meninggalkan lapak mereka

Revitalisasi Malah Hancur, Pasar Palimanan Sepi dan PAD Anjlok
kondisi pasar minggu palimanan di lantai bawah yang sepi. Pedagang lebih memilih lantai bawah, padahal diperuntukan untuk parkir kendaraan. Meskipun begitu, kondisi pembeli juga masih sepi.

INILAHKORAN.ID - Upaya revitalisasi Pasar Minggu di Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, belum mampu mendongkrak aktivitas perdagangan secara signifikan. Kondisi pasar yang cenderung sepi berdampak langsung pada menurunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon mengungkapkan, penurunan pendapatan dipicu berkurangnya jumlah pedagang aktif. Dari total 581 pedagang yang terdata, hanya sekitar 214 yang masih beroperasi, sementara sisanya memilih berhenti berjualan.

Kabid Sarana dan Pelaku Distribusi Disdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar tradisional.

“Sekarang pola belanja masyarakat sudah banyak beralih ke online. Pedagang di pasar harus beradaptasi kalau ingin tetap bertahan,” ungkapnya, Jumat 1 Mei 2026.

Menurutnya, berkurangnya pedagang aktif menyebabkan potensi kehilangan retribusi harian diperkirakan mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu.

Fenomena lain yang cukup mencolok adalah hengkangnya puluhan pedagang emas dari dalam pasar. Tercatat, sebanyak 35 toko emas memilih pindah ke ruko di sekitar area pasar karena sepinya pengunjung.

“Bukan soal biaya, karena retribusi di dalam pasar sebenarnya lebih ringan. Tapi karena pembeli sedikit, mereka memilih pindah ke lokasi yang lebih ramai,” jelasnya.

Selain perubahan perilaku konsumen, faktor desain bangunan juga dinilai turut memengaruhi tingkat kunjungan. Konsep pasar dua lantai membuat sebagian pengunjung enggan naik ke lantai atas, terutama kelompok usia menengah ke atas.

“Bangunannya memang dua lantai, tapi kenyataannya banyak pengunjung yang tidak mau naik. Ini jadi kendala tersendiri,” kata Teguh.

Meski demikian, kondisi sepi tidak terjadi di seluruh area pasar. Aktivitas jual beli di bagian belakang masih relatif berjalan normal, sementara area depan dan lantai atas terlihat lengang.

Dia mengaku, Disdagin telah melakukan berbagai upaya, seperti menggelar kegiatan senam bersama, layanan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga lomba anak-anak guna menarik kunjungan masyarakat.

“Kami sudah coba berbagai kegiatan agar pasar kembali ramai, tapi hasilnya memang belum maksimal,” akunya.

Dia menambahkan, keinginan pedagang untuk berjualan di lantai dasar sempat diakomodasi selama Ramadan. Namun setelah periode tersebut berakhir, sebagian pedagang menolak kembali menempati kios di lantai atas.

“Setelah Ramadan selesai, banyak yang tidak mau kembali ke atas. Ini yang menjadi dilema bagi kami,” tukasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti