BPA Tidak Hanya Ada di Galon, Pakar Minta Masyarakat Tak Perlu Panik
Masyarakat diimbau untuk tidak panik mengenai penggunaan galon air minum akibat paparan zat BPA
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Masyarakat diimbau untuk tidak panik mengenai penggunaan galon air minum akibat kekhawatiran paparan zat Bisphenol A (BPA). pakar Teknik Kimia, Steven Soen, menjelaskan bahwa BPA tidak hanya ditemukan pada galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC), melainkan juga pada berbagai produk dan kemasan pangan sehari-hari.
"BPA itu ada di mana-mana. Ada di makanan kaleng, gigi palsu, hingga kertas pelapis nasi bungkus dari warung makan. Semua ada pelapis atau laminasi plastiknya yang mengandung BPA," ujar Steven kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).
Steven menyayangkan pembahasan isu BPA selama ini yang cenderung berfokus pada galon berbahan polikarbonat saja. Padahal, bahan kimia tersebut juga digunakan pada lapisan epoksi (epoxy coating) di bagian dalam kaleng makanan, lantai resin, hingga hiasan dekoratif.
"Kenapa isunya cuma dibahas di galon polikarbonat? Kenapa tidak di makanan kaleng, hiasan resin, atau gigi palsu?" tuturnya.
Ia menilai keberadaan BPA yang sangat luas membuat masyarakat tidak perlu langsung mengidentikkan BPA secara negatif hanya pada galon guna ulang PC. Menurutnya, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah apakah migrasi zat BPA dari kemasan ke produk pangan masih di bawah batas aman yang ditetapkan oleh regulator.
Steven menegaskan, berbagai riset mengenai uji migrasi BPA pada sejumlah produk air minum dalam kemasan (AMDK) terkemuka di Indonesia menunjukkan hasil yang konsisten berada di bawah ambang batas aman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Keberadaan zat kimia pada suatu bahan tidak serta-merta membuat produk tersebut berbahaya selama memenuhi standar keamanan pangan.
"Jadi kita tidak perlu ketakutan dengan isu yang sebetulnya tidak perlu dibesar-besarkan. Kalau takut minum air yang mengandung BPA, berarti tidak bisa membeli makanan di warteg atau makanan kaleng, karena BPA ada di mana-mana," pungkasnya.
Senada dengan hal tersebut, praktisi kesehatan Dr. Ngabila turut memastikan bahwa kemasan pangan yang memanfaatkan zat BPA masih tergolong aman untuk digunakan masyarakat.
"Sekitar 90 persen zat BPA yang masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan kembali melalui urine dan feses. Oleh karena itu, kemasan pangan berbasis BPA masih tergolong aman," tegas dr. Ngabila.
Ia menambahkan, penggunaan BPA maupun material plastik untuk kemasan pangan di Indonesia telah diatur secara ketat oleh pemerintah melalui Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan pangan. Regulasi ini mencakup batas migrasi zat kimia serta jenis bahan yang diizinkan bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman.
Beberapa jenis plastik yang diizinkan oleh BPOM untuk kemasan pangan di antaranya Polypropylene (PP), Polyethylene Terephthalate (PET), Recycled Polyethylene Terephthalate (rPET), High Density Polyethylene (HDPE), dan Polycarbonate (PC).
"Masing-masing jenis plastik memiliki persyaratan teknis serta batas migrasi yang wajib dipenuhi sebelum diizinkan beredar sebagai kemasan pangan," jelas dr. Ngabila.
Editor : Ahmad Sayuti

