BPBD Kota Bandung Menilai Saat RTH Menyusut Pohon Jadi Benteng Banjir dan Longsor
Menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH) di sejumlah wilayah Kota Bandung menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko banjir dan longsor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH) di sejumlah wilayah Kota Bandung menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko banjir dan longsor.
Kondisi itu mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung melakukan penanaman ratusan pohon di Kelurahan Pasir Wangi, Kecamatan Ujungberung sebagai upaya mitigasi berbasis lingkungan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan, penanaman pohon dilakukan di dua lokasi yang berdekatan di Pasir Wangi. Di lokasi pertama, ditanam sebanyak 259 pohon dan di lokasi kedua sebanyak 140 pohon.
“Penanaman sudah dilakukan di dua titik, semuanya di wilayah Pasir Wangi. Total pohon yang ditanam sebanyak 399 pohon,” kata Didi Ruswandi, Kamis 22 Januari 2026.
Menurutnya, upaya mitigasi melalui penanaman pohon tidak dapat memberikan dampak instan. Prosesnya bersifat alami, dan membutuhkan waktu hingga pohon tumbuh dewasa. Namun langkah itu, dinilai penting sebagai upaya menekan risiko bencana di masa mendatang.
“Mitigasi itu dilakukan ketika potensi bahaya ada, tetapi dampaknya belum terlihat secara nyata. Penanaman pohon ini bertujuan untuk mengurangi aliran air, sedimentasi ke sungai dan menekan risiko banjir dan longsor,” ucapnya.
Didi menjelaskan, saat ini kondisi ruang terbuka hijau di tingkat RT dan RW belum optimal. Di beberapa wilayah, lahan yang seharusnya menjadi RTH justru dimanfaatkan warga untuk menanam palawija.
“Palawija memang tetap meresapkan air, tapi tidak cukup untuk menahan aliran air dan sedimen. Pohon pelindung jauh lebih efektif untuk itu,” ujar dia.
Ia menambahkan, pohon yang telah tumbuh dewasa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Selain meningkatkan daya resap air, pohon juga mampu menstabilkan struktur tanah dan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
“Kalau pohon sudah besar, resapan air meningkat, tanah lebih stabil dan ketika kemarau masih ada cadangan air. Itu yang ingin kita capai dari penanaman ini,” jelasnya.
Jenis pohon yang ditanam didominasi pohon buah-buahan seperti mangga, nangka, jambu, durian dan sejumlah jenis lainnya. Tinggi tanaman bervariasi antara satu hingga satu setengah meter, dan seluruhnya siap untuk dirawat oleh masyarakat setempat.
Selain sebagai upaya mitigasi banjir dan longsor, kegiatan penanaman pohon ini juga memiliki manfaat lintas sektor. Didi menyebutkan, bagi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) kegiatan ini mendukung pengembangan hutan kota. Sementara bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menjadi bagian dari upaya mengurangi pemanasan global.
“Jadi, satu kegiatan bisa memberi banyak manfaat. Bagi BPBD ini mitigasi bencana, bagi dinas lain ini hutan kota, perkebunan dan lingkungan,” ujar dia.
Ke depan, BPBD Kota Bandung juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam perawatan pohon sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Penanaman pohon di Pasir Wangi, diharapkan menjadi contoh bagaimana mitigasi bencana dapat dimulai dari perbaikan kualitas ruang terbuka hijau di tingkat wilayah.
“Fokus kami masih banyak, terutama ke edukasi masyarakat agar mulai menanam pohon yang sesuai. Kalau lingkungannya terjaga, risiko bencana bisa ditekan,” tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

