BPS Sebut Ekspor Jawa Barat Alami Penurunan di Sembilan Negara Tujuan

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar) mengungkapkan kinerja ekspor Jabar mengalami penurunan, utamanya di sembilan negara tujuan termasuk Amerika Serikat (AS). Ekspor yang mengalami penurunan di negara tujuan adalah pada ekspor nonmigas yang merupakan 99,25 persen dari kinerja ekspor Jabar. Di mana ekspor jenis ini tercatat sebesar 3,06 miliar dolar AS atau turun sebesar 3,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

BPS Sebut Ekspor Jawa Barat Alami Penurunan di Sembilan Negara Tujuan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Jabar, Darwis Sitorus menjelaskan nilai ekspor Jabar secara total (migas dan nonmigas) pada Maret 2025 tercatat 3,09 miliar dolar AS yang turun 3,51 persen dibanding Februari 2025. Jika dibandingkan Maret 2024, turun 3,29 persen. (Antara)

INILAHKORAN,Bandung- Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Jabar, Darwis Sitorus menjelaskan nilai ekspor Jabar secara total (migas dan nonmigas) pada Maret 2025 tercatat 3,09 miliar dolar AS yang turun 3,51 persen dibanding Februari 2025. Jika dibandingkan Maret 2024, turun 3,29 persen.

Ekspor yang mengalami penurunan di negara tujuan, lanjut Darwis, adalah pada ekspor nonmigas yang merupakan 99,25 persen dari Kinerja Ekspor Jabar. Di mana ekspor jenis ini tercatat sebesar 3,06 miliar dolar AS atau turun sebesar 3,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Nilai tersebut didapatkan dari volume ekspor sejumlah 667,52 ribu ton pada Maret 2025, yang turun 4,36 persen dari volume ekspor Februari 2025 sebesar 697,93 ribu ton.

Tiga dari sembilan negara tujuan ekspor yang tercatat mengalami nilai penurunan tertinggi adalah Thailand sebesar 147,50 juta dolar AS (turun 49,51 persen), disusul AS sebesar 23,89 juta dolar AS turun 4,74 persen), dan Filipina sebesar 15,54 juta dolar AS (turun 5,31 persen).

Darwis menduga turunnya nilai ekspor Jabar kemungkinan karena dampak isu kebijakan tarif resiprokal (Tarif Trump) dari AS, mengingat komoditas nonmigas khususnya barang rajutan, karet dan produk turunannya, serta pakaian jadi bukan rajutan menjadi barang ekspor utama Jabar dengan salah satu tujuan utamanya AS.

"Kita memang belum bisa memastikan apakah ini murni dampak dari kebijakan tarif baru dari AS, karena kebijakan tersebut diketahui masih dalam masa penundaan selama 90 hari. Namun dari data yang kami miliki, terlihat bahwa sudah mulai ada penurunan volume ekspor ke Amerika," ujar Darwis.

Menurutnya, penurunan tersebut menjadi sinyal awal bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi kemungkinan perubahan tren perdagangan global, khususnya dengan AS sebagai salah satu mitra dagang terbesar Jabar.

Mengingat AS dengan nilai ekspor 479,71 juta dolar AS pada Maret 2025 adalah tujuan ekspor nonmigas Jabar bersama dengan Filipina (277,21 juta dolar AS), dan Jepang (242,40 juta dolar AS). "Ketiga negara tersebut memberikan kontribusi sebesar 32,67 persen terhadap total ekspor Jawa Barat," ujarnya pula.

Dengan ekspor nonmigas yang mengalami penurunan, di sisi lain, ekspor migas justru mengalami kenaikan signifikan sebesar 68,23 persen dengan barang berupa hasil minyak. "Pada Februari 2025 nilai ekspor migas sebesar 19,37 juta dolar AS, dan pada Maret 2025 nilai ekspor migas Jabar sebesar 32,59 juta dolar AS," ujar dia lagi.

Adapun nilai impor Jabar pada Maret 2025 tercatat sebesar 0,98 miliar dolar AS, naik 10,38 persen dibanding Februari 2025. Nilai impor ini turun 7,10 persen dibandingkan Maret 2024. Dengan demikian, kata Darwis, neraca perdagangan luar negeri Jawa Barat pada Maret 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,11 miliar dolar AS. "Dari sisi volume, juga tercatat surplus sebesar 223,35 ribu ton," pungkasnya.***


Editor : Ghiok Riswoto