BPS Jabar Ungkap Alasan Warga Merasa Pas-pasan tapi Masuk Desil 10

BPS Jabar menjelaskan alasan warga merasa ekonominya pas-pasan tetapi masuk Desil 10. Penentuan desil tidak hanya berdasarkan penghasilan.

BPS Jabar Ungkap Alasan Warga Merasa Pas-pasan tapi Masuk Desil 10

INILAHKORAN.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat membeberkan alasan di balik fenomena masyarakat yang merasa kondisi ekonominya pas-pasan, namun justru tercatat dalam kelompok Desil 10.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menegaskan bahwa penentuan Desil tidak melulu diukur dari besaran penghasilan bulanan seseorang. 

Desil pada dasarnya adalah pengelompokan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi yang terbagi menjadi 10 kelompok dalam Data Tunggal Sosial dan ekonomi Nasional (DTSEN).

"Desil 1 merupakan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah, sedangkan Desil 10 merupakan 10 persen dengan tingkat kesejahteraan tertinggi," kata Margaretha, Sabtu (15/8/2026).

Margaretha menjelaskan, penentuan Desil menggunakan variabel indikator yang kompleks. Indikator tersebut mencakup identitas kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kualitas tempat tinggal, akses sanitasi dan air bersih, kesehatan, disabilitas, hingga kepemilikan aset dan usaha.

Adapun basis data DTSEN dibangun dari integrasi Regsosek, DTKS, dan P3KE. Data tersebut juga diperkaya lewat pemadanan data PLN, Pertamina, BPJS Kesehatan, serta administrasi kependudukan.

"Jadi, Desil bukan angka yang menunjukkan besarnya pendapatan seseorang, melainkan posisi relatif suatu keluarga dalam distribusi tingkat kesejahteraan," tegasnya.

Dinamika kondisi sosial ekonomi juga menjadi pemicu munculnya persepsi ketidaksesuaian. Margaretha menyebut perubahan seperti PHK, penurunan omzet bisnis, kepindahan rumah, atau perubahan struktur keluarga belum tentu bisa langsung tercermin saat pemeringkatan Desil dilakukan.

Terlebih lagi, status Desil bersifat peringkat relatif. Artinya, posisi sebuah keluarga dipengaruhi oleh naik-turunnya kondisi sosial ekonomi keluarga lain di sekitarnya.

Menanggapi potensi ketidaksesuaian di lapangan, BPS memastikan DTSEN akan bersifat dinamis dan terus diperbarui secara berkala melalui proses pemutakhiran data dan ground check.

"Status Desil yang tercantum bukan berarti menggambarkan kondisi ekonomi keluarga secara mutlak dan tidak dapat berubah, melainkan hasil pengelompokan berdasarkan informasi yang tersedia ketika proses pemeringkatan dilakukan," pungkas Margaretha.


Editor : Ahmad Sayuti