Bukan Sekadar Beras, Tapi Perhatian: Haru di Balik Gerakan Pangan Murah Polrestabes Bandung
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Budi Sartono menjelaskan kegiatan gerakan pangan murah ini merupakan bentuk sinergi antara Polri dan Bulog dalam menyediakan bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Dalam rangka mendukung program pemerintah dan membantu meringankan beban masyarakat, Polrestabes Bandung menggelar gerakan pangan murah di halaman Mapolrestabes Bandung. Kegiatan ini telah berlangsung sejak kemarin dan akan terus berlanjut hingga 16 Agustus 2025.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Budi Sartono menjelaskan kegiatan gerakan pangan murah ini merupakan bentuk sinergi antara Polri dan Bulog dalam menyediakan bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
"Gerakan ini merupakan program dari pemerintah. Kami bantu masyarakat untuk membeli pangan berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau dari Bulog," ujar Kombes Pol Budi Sartono, Selasa 12 Agustus 2025.
Dalam kegiatan tersebut, Polrestabes Bandung menyediakan beras medium seharga Rp11.000 per kilogram. Masyarakat dapat membeli dalam kemasan 5 kilogram seharga Rp55.000 per kantong.
Namun, pembelian dibatasi maksimal dua kantong per orang dengan menunjukkan KTP sebagai syarat administrasi.
"Setiap orang hanya diperbolehkan membeli dua kantong. Cukup tunjukkan KTP, dan langsung bisa dilayani,” jelasnya.
Selain penjualan beras murah, bazar sembako lainnya juga digelar di lokasi yang sama. Berbagai kebutuhan pokok seperti daging, sayuran, dan bahan pangan lainnya turut ditawarkan dengan harga lebih rendah dari pasaran.
“Alhamdulillah, antusiasme warga sangat tinggi. Hari ini kami siapkan 2 ton beras, dan karena tingginya minat masyarakat, besok kami akan tambah menjadi 4 ton,” tambah Kapolrestabes.
Kegiatan ini tidak hanya terpusat di Mapolrestabes Bandung. Rencananya, program serupa juga akan digelar di sejumlah polsek di wilayah hukum Polrestabes Bandung agar masyarakat bisa lebih mudah menjangkau layanan pangan murah ini.
"Setelah kegiatan di Polrestabes, kami akan laksanakan juga di beberapa polsek agar lebih dekat dengan masyarakat," ungkapnya.
gerakan pangan murah ini merupakan bagian dari upaya Polda Jawa Barat yang turut serta menjalankan program nasional untuk menjaga stabilitas pangan dan membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80.
Di tengah hiruk-pikuk bazar pangan murah yang digelar Polrestabes Bandung, tampak sosok seorang wanita lansia duduk di bawah tenda, memegang dua kantong beras dan sekantong kecil berisi sosis dan nugget.
Namanya Siti Halimah. Usianya 64 tahun. Hari itu, ia berjalan kaki dari rumahnya di Kosambi sejak pagi, demi mendapatkan beras murah untuk keluarganya.
"Seharga lima puluh lima (ribu), bagi kami yang kaum miskin ini sangat meringankan untuk keluarga," ucapnya lirih, dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Ia datang bersama adiknya, setelah mendengar kabar dari tetangga tentang adanya gerakan pangan murah dari pemerintah yang difasilitasi Polrestabes Bandung.
Sesuai aturan, ia menunjukkan KTP untuk bisa membeli dua kantong beras, masing-masing 5 kilogram.
“Tinggal berdua sama cucu di rumah," katanya pelan.
Putri dari cucunya tinggal jauh, di Pasirimpun.Namun yang paling membuat hatinya terenyuh bukan hanya beras murah itu.
Di tengah kerumunan, Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Budi Sartono menghampiri dan menyerahkan sekantong makanan berisi sosis dan nugget.
"Ini buat cucu," ujar Siti menirukan ucapkan Kapolreatabes sambil menunjukkan isi kantong plastiknya, senyum tipis muncul di wajah lelahnya.
Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin kecil. Tapi bagi Siti Halimah, yang setiap harinya bergulat dengan keterbatasan, itu adalah bentuk perhatian yang menghangatkan hati.
gerakan pangan murah ini bukan sekadar distribusi bahan pokok, melainkan jembatan kepedulian antara aparat dan rakyat.
Bagi Siti Halimah dan banyak warga lain yang hadir, program ini bukan hanya soal harga, tapi tentang rasa: rasa didengar, rasa diperhatikan, dan rasa tidak sendiri dalam menjalani hidup yang tidak selalu mudah.
Editor : Ahmad Sayuti

