Bulan Rajab Disebut Bulan Haram, Kenapa?
Bulan ketujuh dalam kalender Islam itu akan jatuh pada Rabu 2 Februari 2022 Masehi atau 1443 hijriah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan suci. Kata "Rajab" memiliki arti keagungan dan di dalam Al-Quran disebut sebagai Asyhurul Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan. Bulan ketujuh dalam kalender Islam itu akan jatuh pada Rabu 2 Februari 2022 Masehi atau 1443 hijriah.
Mantan manajer eksekutif dan Pemimpin Redaksi Komite E-Dakwah di Kuwait, Mohsen Haredy, mengatakan bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan suci yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Di bulan ini, perang dan pertempuran tidak diperbolehkan, tapi onsep pertempuran sangat komprehensif.
"Ini bisa merujuk pada memerangi kemarahan, melawan depresi, melawan kebiasaan buruk, melawan ketidakadilan. Jadi, setiap Muslim harus memerangi semua hal ini sepanjang tahun terutama di bulan Rajab," ujar Mohsen Haredy dikutip dari About Islam, Selasa 1 Februari 2022.
Baca Juga: Bulan Rajab Datang, Ini Doanya Supaya Diberi Rahmat Berlimpah
Mohsen Haredy menengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yang menyebutkan status bulan Rajab diantara bulan-bulan haram lainnya. ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi.
Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
"Seperti yang ditunjukkan hadits, tiga dari empat bulan suci berurutan dan bulan Rajab datang 5 bulan setelah bulan Muharram. Oleh karena itu, sebagian ulama menyebutnya Rajab al-Fard, yaitu Rajab yang menyendiri," lanjut Mohsen Haredy.
Menurut Mohsen Haredy,ada lima belas nama lain yang diberikan kepada bulan Rajab yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitabnya yang terkenal Tabyeen Al-Ajab bima Warada fi Fadl Rajab. Namun, kata dia, para cendekiawan Muslim sepakat bahwa tidak ada satu pun hadits shahih tentang keutamaan bulan Rajab kecuali hadits yang dikutip di atas tentang salah satu dari empat bulan suci.
Baca Juga: Wajib Tahu Nih! Keistimewaan Bulan Rajab, Pahala Meningkat Hingga 70 Kali Lipat
Kemudian terkait menawarkan tindakan ibadah tertentu seperti puasa dan sedekah di bulan Rajab, kata Mohsen Haredy, tidak ada satu pun hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi kecuali hadits ini yang berbunyi: Usamah bin Zaid berkata: "Aku berkata: 'Ya Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa selain Sya'ban." Dia berkata: "Itu adalah bulan yang tidak banyak diperhatikan orang, antara Rajab dan Ramadhan. . Ini adalah bulan yang mengangkat amalan-amalan kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka jika amalanku diangkat ketika aku berpuasa.” (HR An-Nasa’i).
Berdasarkan pemahaman hadits di atas, para ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW membuat kesamaan antara Rajab dan Ramadhan dalam hal kesempatan untuk melakukan perbuatan baik. Karena Ramadhan adalah bulan puasa, dianjurkan untuk menjalankan puasa di bulan Rajab. Namun, puasa di bulan Rajab tidak memerlukan pahala khusus. Ini seperti puasa di setiap bulan sepanjang tahun. Muslim suka berpuasa di bulan Rajab karena ini adalah pintu gerbang mereka menuju Ramadhan. Mereka yang melewatkan beberapa hari puasa lebih memilih untuk mengqadha di bulan Rajab.
RajabBaca Juga: Pemprov Jabar Anggarakan Rp60 Miliar untuk Terminal Ciledug, Anggota Komisi IV Bilang Begini
"Wanita yang tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan karena menstruasi mereka lebih memilih untuk mengganti hari-hari yang terlewat di bulan Rajab dan Syaban," tutur cendikiawan penyandang gelar PhD dalam bidang sastra Hadits dari Universitas Leiden, Belanda itu.
Selain itu, menurut Mohsen Haredy, beberapa penulis biografi berpendapat bahwa peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Yerusalem dan kenaikannya ke langit ketujuh atau lebih dikenal sebagai Al-Isra dan Al-Miraj, terjadi pada tanggal 27 Rajab. Peristiwa Al-Isra merupakan titik balik dalam sejarah Islam.
"Peristiwa ini juga mengingatkan kita akan pentingnya Masjid Al-Aqsha di mana umat Islam awal biasa mengarahkan wajah mereka dalam shalat sebelum perintah dari Allah datang untuk menjadikan Kabah di Mekah sebagai kiblat shalat umat Islam," tutup penulis kontributor serta konselor Reading Islam tersebut.***
Editor : inilahkoran


