Cara Ngatiyana Maknai Naskah Wangsakerta Pustaka I Nusantara
Wali Kota Cimahi Ngatiyana melihat dalam Naskah Wangsakerta Pustaka I Nusantara bukan sekadar lembaran kertas berisi catatan masa lalu, melainkan cermin kehidupan yang menyimpan pelajaran mendalam tentang kepemimpinan yang luhur, negara yang kokoh karena persatuan, dan kesejahteraan rakyat yang tumbuh dari tangan pemimpin yang adil dan bijaksana.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Di balik setiap batu jalan dan gedung yang menjulang, tersembunyi esensi yang tak terlihat namun tak bisa tergantikan, yakni jiwa budaya yang menjadi akar identitas sebuah bangsa.
Wali Kota CImahi Ngatiyana melihat dalam Naskah Wangsakerta Pustaka I Nusantara bukan sekadar lembaran kertas berisi catatan masa lalu, melainkan cermin kehidupan yang menyimpan pelajaran mendalam tentang kepemimpinan yang luhur, negara yang kokoh karena persatuan, dan kesejahteraan rakyat yang tumbuh dari tangan pemimpin yang adil dan bijaksana.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam naskah kuno itu, katanya, bukan sekadar cerita masa lampau yang usang. Justru, mereka sangat relevan dalam menyusun tata kelola pemerintahan daerah yang benar-benar menyentuh hati rakyat.
“Persoalan bangsa hari ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi dan anggaran. Yang dibutuhkan adalah karakter, etika, dan kesadaran sejarah,” kata Ngatiyana.
Baginya, pembangunan bukanlah sekadar tentang beton dan aspal, melainkan tentang manusia yang memiliki jiwa kebangsaan yang kuat, manusia yang tahu dari mana ia datang dan ke mana ia akan pergi.
Kegiatan dialog budaya yang digelar oleh BSA dan Gentra Pamitan mendapatkan apresiasi penuh dari Wali Kota. Menurutnya, acara semacam ini adalah ruang dialektika yang segar dan sehat, di mana sejarah tidak dipajang sebagai dogma yang kaku dan tak bisa disentuh.
Sebaliknya, ia diangkat sebagai sumber hikmah yang dapat hidup kembali melalui konteks kekinian.
“Pemerintah Kota CImahi menempatkan pelestarian budaya dan naskah kuno sebagai bagian dari pembangunan manusia seutuhnya,” jelasnya.
Ngatiyana menyebut, sebuah kota akan benar-benar kuat bukan karena kemajuan ekonomi semata, melainkan karena ia mengenal asal-usulnya, menghormati jejak leluhur yang tertanam di setiap sudutnya, dan memiliki keberanian untuk menghadapi masa depan dengan akar yang kokoh.
“Jangan jadikan Naskah Wangsakerta hanya sebagai arsip yang terlupakan atau kontroversi yang memecah belah, tetapi sebagai warisan budaya yang kaya akan informasi, dengan pendekatan ilmiah yang sehat dan penuh rasa hormat,” ujarnya.
Komitmen Ngatiyana terhadap pelestarian budaya tidak hanya terbatas pada kata-kata yang indah. Ia telah menunjukkan langkah konkret yang membuat budaya hidup dan bernapas di tengah kehidupan masyarakat modern.
Saat ini, Pemkot CImahi telah mulai menuliskan aksara Sunda di sejumlah ruas jalan dan fasilitas publik, dengan rencana untuk menjadikan tanda-tanda budaya ini hadir di seluruh wilayah kota.
“Kalau sudah kita tuliskan pakai aksara Sunda, nanti tahun ini juga kita akan tulis lagi. Setiap jalan harus ada aksara Sunda. Ini salah satunya cara kita melestarikan budaya, dengan membuatnya bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ngatiyana juga menyoroti peran penting tokoh budaya dan kasepuhan, seperti Abah Ujang dan Abah Alam, yang merupakan aset daerah yang tak ternilai harganya.
Tanpa upaya serius untuk menjaga dan menurunkan ilmu mereka kepada generasi muda, kata dia, budaya Sunda dan budaya daerah lainnya berisiko terkikis oleh derasnya arus globalisasi yang tak mengenal batas.
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang menjaga budayanya. Tanpa pelestarian yang sungguh-sungguh, nilai etika dan kesantunan yang menjadi ciri khas bangsa timur akan tergerus perlahan, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh dalam lautan informasi yang tak terbatas,” katanya.
Ngatiyana berharap kegiatan budaya semacam ini bukanlah sebuah peristiwa yang terisolasi. Menurutnya, dialog dan pemahaman tentang budaya dapat terus berlanjut, mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi bagian dari tradisi kita, diwariskan kepada anak cucu kita, agar nilai-nilai leluhur tidak hanya hidup di dalam buku sejarah, tetapi juga menjadi pedoman yang hidup dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

