Cerita Warga saat Longsor Terjang Desa Cibenda, Asep: Saya Lagi Tadarus Al-Quran
Tak lekang dalam ingatan Asep Gunawan malam di mana detik-detik bencana alam tanah longsor menerjang Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) Minggu 24 Maret 2024 malam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Tak lekang dalam ingatan Asep Gunawan malam di mana detik-detik bencana alam tanah Longsor menerjang Desa CIbenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) Minggu 24 Maret 2024 malam.
Asep dan keluarga merupakan warga Kampung Cilimus RT02/01, Desa CIbenda, Kecamatan Cipongkor yang turut terdampak bencana yang meluluhlantakkan puluhan rumah di desanya itu.
Meski terdampak, Asep dan keluarga masih beruntung lantaran rumahnya masih tegap berdiri dan selamat dari terjangan bencana tanah Longsor. Berbeda dengan puluhan rumah di Kampung Gintung RT 03/07 yang rata dengan tanah.
Namun, Asep mengingat betul detik-detik sebelum terjadinya bencana yang sempat menimbun 10 orang warga Kampung Gintung itu.
"Saat kejadian atau sekitar pukul 20.22 WIB, saya lagi tadarus Al Quran setelah salat Tarawih. Namun, tiba-tiba kedengaran suara gemuruh kencang dari atas rumah," kata Asep kepada wartawan.
Mendengar itu, pria 38 tahun itu pun bergegas keluar rumah untuk memastikan sumber suara. Saat keluar, dirinya pun kaget melihat lumpur yang membawa material kayu melintas di depan rumahnya.
"Awalnya karena hujan deras yang mengguyur selama beberapa jam. Tepat sekitar pukul 23.20 WIB, saya keluar ternyata air bercampur lumpur udah du depan rumah," ungkapnya.
Asep menyebut, lumpur yang membawa material kayu tersebut terbawa arus air kencang dan menutup kurang lebih 2,5 meter rumahnya. Termasuk, merendam perabotan rumah tangga dan elektronik.
"Lumpur setinggi dada orang dewasa itu lama-lama masuk ke rumah. Akibatnya, perabotan rumah tangga dan elektronik rusak," sebutnya.
Asep menuturkan, tumpukan lumpur dan materialnya sudah dibersihkan secara manual dengan dibantu petugas dan warga sekitar.
Selain itu, pasca bencana Longsor tersebut, saluran air yang hancur bisa segera diperbaiki.
"Pemda KBB sudah melakukan asesmen dan didata sama BPBD. Tapi, kalau bantuan kami belum dapat," ucapnya.
Menurutnya, dirinya akan bertahan sementara untuk beres-beres rumahnya yang terendam lumpur.
"Saya juga berharap ada perbaikan bantaran sungai minimal dipasang bronjong. Apalagi jarak rumah dengan sungai kecil itu cuman 2 meter," tuturnya.
Berbeda dengan Asep, Ida Faridah (43) warga Kampung Gintung RT 03/07, Desa CIbenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu sempat mendengar tiga kali suara dentuman saat kejadian.
"Pas kejadian pertama suara dentuman pukul 20.21 WIB, lalu kedua suara terdengar pukul 21.25 WIB, dan yang terakhir pukul 23.25 WIB. Saya langsung keluar," ujarnya.
Saat keluar rumah, kata Ida, ternyata air sudah menggenang sebagian rumah dan melihat jalan sudah bercampur lumpur. Spontan, dirinya langsung membawa ketiga anaknya ke tempat yang lebih aman dan tak sempat menyelamatkan barang berharga miliknya.
"Boro-boro bawa barang, enggak kepikiran masalah itu yang ada dipikiran saya menyelamatkan anak-anak," kata Ida.
"Saya langsung ke Balai Desa CIbenda di sini banyak warga yang mengungsi," ucapnya.
Akibat bencana tanah Longsor tersebut, Ida mengaku terpaksa beribadah puasa Ramadan di lokasi pengungsian bersama ratusan warga yang menjadi korban.
Sebab, Ida mengakui tempat tinggal yang selama ini dihuni bersama tiga orang anaknya itu belum bisa dipastikan aman.
"Kami belum berani pulang ke rumah, sewaktu-waktu ditakutkan hujan kembali turun dan Longsor susulan terjadi," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana


