Dari Gerobak, Agista Melukis Mimpi Masa Depan
DULU, lukisan Agista membantu orang tuanya membeli beras. Kini, Sekolah Rakyat membuka jalan bagi mimpi-mimpinya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Gerobak pemulung pernah menjadi galeri sederhana bagi Agista Saputri. Di atas lembaran kertas HVS, bocah berusia 10 tahun itu menuangkan imajinasi melalui goresan pena, tinta, dan cat. Karya-karyanya dijajakan di pinggir jalan, membantu orang tuanya membeli beras untuk keluarga.
Kini, gerobak itu bukan lagi satu-satunya ruang bagi Agista untuk tumbuh. Anak bungsu pasangan pemulung Roni (40) dan Wagiyem (38) tersebut mendapat kesempatan mengenyam pendidikan melalui program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial.
Perubahan besar itu bermula dari kebiasaan sederhana. Sebelum mengenal bangku sekolah, Agista menghabiskan hari-harinya dengan menggambar dan melukis. Sejak berusia empat tahun, dia sudah menunjukkan bakat seni yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Kertas, kardus bekas yang dipungut ayahnya, bahkan tembok menjadi media untuk menyalurkan kreativitas. Bagi Agista, melukis bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan cara mengekspresikan dunia yang dikenalnya.
Tak disangka, karya-karya tersebut menarik perhatian banyak orang. Meski belum bisa membaca, menulis, dan berhitung, Agista mampu menghasilkan gambar yang dinilai memiliki nilai estetika. Selembar lukisan di atas kertas HVS bahkan bisa terjual Rp5.000 hingga Rp10.000.
Gerobak sang ayah pun berubah fungsi menjadi galeri berjalan. Ketika Roni dan Wagiyem mangkal di depan toko swalayan di kawasan Japos, Tangerang, Banten, lukisan Agista ikut dipajang untuk ditawarkan kepada pembeli.
Uang hasil penjualan lukisan itu mungkin tidak seberapa. Namun, bagi keluarga mereka, setiap lembar yang terjual berarti tambahan uang untuk membeli kebutuhan pokok, termasuk beras.
Di tengah keterbatasan, bakat Agista perlahan membuka jalan menuju kehidupan yang berbeda. Karya-karyanya menjadi perbincangan setelah viral di media sosial melalui unggahan sejumlah orang yang tertarik pada kemampuannya. Perhatian publik itu kemudian mempertemukan Agista dan keluarganya dengan tim penyaring dari Kementerian Sosial. (gin)
Editor : Inilahkoran

