Dari Halaman Kelas ke Halaman Buku, SMPN Satu Atap Lembang Cililin Hiasi Dunia Literasi dengan Gemerlap Gema Puisi dan Cerpen
Di lereng perbukitan Lembang Cililin, di mana udara segar menyatu dengan suara riuh anak-anak sekolah, tumbuhlah sebuah karya yang membawa kilau baru bagi dunia pendidikan lokal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di lereng perbukitan Lembang Cililin, di mana udara segar menyatu dengan suara riuh anak-anak sekolah, tumbuhlah sebuah karya yang membawa kilau baru bagi dunia pendidikan lokal.
Buku antologi berjudul Gemerlap Gema Puisi dan Cerpen bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan bukti nyata bahwa semangat literasi bisa berkobar bahkan di pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Kepala SMPN Satu Atap Lembang Cililin, Adhyatnika Geusan Ulun mengatakan, terbitnya buku kompilasi karya sastra yang merupakan hasil kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan dan siswa.
Menurutnya, inovasi ini tidak hanya dirancang untuk meningkatkan kualitas literasi di lingkungan sekolah, namun juga sebagai bentuk dukungan nyata terhadap Tantangan Membaca Bandung Barat (TMBB) yang digulirkan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat pada 2025.
“Kami sangat mengapresiasi terbitnya Gemerlap Gema Puisi dan Cerpen. Antologi ini sangat selaras dengan visi sekolah yang berupa mencetak warga sekolah yang literat,” kata Adhyatnika, Sabtu 10 Januari 2026.
Adhyatnika mengungkapkan, terbitnya Gemerlap Gema Puisi dan Cerpen diharapkan bukanlah akhir dari perjalanan literasi sekolah. Melainkan sebagai stimulus bagi seluruh warga sekolah untuk terus mengasah bakat dan berkarya, sehingga cita-cita melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan memiliki kemampuan literasi yang kuat dapat terealisasi secara penuh.
"Di setiap halaman buku itu, terkandung bukan hanya kata-kata indah, melainkan juga impian bagi masa depan yang lebih cerah, di mana anak-anak Indonesia mampu mengungkapkan diri melalui kata dan membangun dunia dengan kekuatan pikiran serta hati yang penuh makna," bebernya.
Koordinator Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Gema Satap Lembang, Noneng Sri Lugay Mulyani menjelaskna, terbitnya buku ini bukanlah hasil kebetulan.
Ia menuturkan, proses penyusunan yang relatif panjang dilalui dengan penuh kesabaran, mengikuti setiap tahapan yang telah ditetapkan dalam program TMBB.
“Prosesnya memang tidak singkat, namun atas kerja keras dan keseriusan semua pihak, termasuk dukungan dari seluruh warga sekolah," katanya.
"Alhamdulillah kami berhasil menuntaskan tantangan ini dan menerbitkan buku. Alhamdulillah,” ucapnya.
Wakasek Kesiswaan, Nurhayati menambahkan bahwa semangat gotong-royong menjadi pondasi utama dalam menyusun antologi ini.
Para penulis tak pernah segan untuk berdiskusi, baik di antara sesama siswa maupun bersama guru, bahkan seringkali menyisihkan waktu di tengah kesibukan mengajar dan belajar sehari-hari.
“Kami sering berkumpul untuk melahirkan karya yang baik dan benar dari segi isi maupun tata bahasa. Walaupun harus mengatur waktu dengan cermat, kami tidak pernah merasa berat, karena setiap diskusi adalah langkah untuk memperbaiki diri dan menghasilkan yang terbaik,” jelasnya.
Editor : Doni Ramdhani

