Dedi Mulyadi Siapkan 'Sekolah Maestro', Pembatik dan Perajin Anyaman Bakal Digaji
Dedi Mulyadi akan mendirikan sekolah maestro dan akan menggaji pembatik hingga perajin anayaman untuk regenerasi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui promosi dan pameran produk. Tak kalah penting menurutnya adalah menjaga keberlanjutan para pelaku ekonomi kreatif tradisional, yang selama ini menjadi identitas budaya.
Ini dikatakan Dedi, kala membuka Sunda Karsa Fest Karya Kreatif Jawa Barat 2026 yang digelar Bank Indonesia bersama Dekranasda Jawa Barat di Kota Bandung, Jumat (26/6/2026) lalu.
Ia menjelaskan, festival tersebut bukan sekadar ajang memamerkan produk unggulan daerah. Kegiatan itu menjadi instrumen penting untuk mengukur perkembangan UMKM, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap sektor usaha rakyat yang selama ini menjadi penopang ekonomi Jawa Barat.
"Ini merupakan bagian dari mengevaluasi perkembangan UMKM, sekaligus juga mempromosikan. Sehingga nanti semua orang akan merasa memiliki kepercayaan diri yang kuat, bahwa UMKM itu merupakan bagian terpenting dalam sistem ekonomi yang terbangun di Jabar," ujar Dedi.
Ia menilai, dampak ekonomi kegiatan semacam itu akan lebih besar apabila penyelenggaraannya tidak hanya berpusat di Bandung. Sebab itu, Dedi mendorong agar agenda serupa digelar bergilir di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat sehingga mampu menggerakkan ekonomi kreatif hingga ke daerah.
Namun, perhatiannya tidak berhenti pada peningkatan transaksi UMKM. Ia justru menyoroti ancaman yang lebih serius, yakni semakin menipisnya regenerasi perajin tradisional di Jawa Barat.
Menurutnya, profesi pembatik, pemahat, pelukis, pembuat anyaman hingga pelaku kuliner tradisional perlahan menghadapi krisis penerus. Jika kondisi tersebut dibiarkan, Jawa Barat berpotensi kehilangan banyak keterampilan yang selama ini menjadi kekuatan budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
Guna mengantisipasi hal itu, Dedi menggagas program pemberdayaan para maestro kerajinan tradisional dengan memberikan dukungan ekonomi agar mereka dapat fokus mengajarkan keahlian kepada generasi muda.
"Saya sudah minta kumpulkan para pembatik, beri mereka gaji setiap bulan yang cukup untuk mengajarkan membatik. Begitu juga untuk ukiran, lukisan, masakan tradisional, sampai anyaman agar keahliannya tidak putus," ucapnya.
Gagasan tersebut muncul, setelah Dedi melihat potensi besar sektor kerajinan di Jawa Barat, terutama anyaman yang berkembang kuat di Tasikmalaya dan Garut. Di sisi lain, jumlah anak muda yang tertarik menekuni profesi tersebut terus menurun.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Jawa Barat tengah menyiapkan pusat-pusat pembelajaran keterampilan berbasis budaya lokal. Konsep yang diusung adalah menghadirkan paguron atau ruang belajar yang secara khusus menjadi tempat transfer pengetahuan dari para maestro kepada generasi muda.
Nantinya akan dibentuk Paguron Batik, Paguron Anyaman, Paguron Ukir, hingga Paguron Lukis. Melalui skema itu, keterampilan tradisional tidak hanya terjaga sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja baru di masa depan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Pemprov, untuk memastikan pertumbuhan UMKM Jawa Barat berjalan seiring dengan pelestarian identitas budaya daerah, sehingga produk kreatif lokal tidak kehilangan akar tradisi yang menjadi nilai pembeda di pasar nasional maupun global.
Editor : Ahmad Sayuti

