Dedi Mulyadi Target Hemat Listrik dan Air Hingga 75 Persen dari WFH

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, work from home (WFH) telah efektif diberlakukan per Kamis 6 November 2025.

Dedi Mulyadi Target Hemat Listrik dan Air Hingga 75 Persen dari WFH
Sepanjang November, akan dilakukan WFH bagi ASN yang tidak bersinggungan dengan pelayanan publik di setiap Kamis. Pemberlakuan WFH tidak hanya di lingkungan Gedung Sate, tetapi juga di Organisasi Perangkat Daerah (OPD). (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, work from home (WFH) telah efektif diberlakukan per Kamis 6 November 2025.

Sepanjang November, akan dilakukan WFH bagi ASN yang tidak bersinggungan dengan pelayanan publik di setiap Kamis. Pemberlakuan WFH tidak hanya di lingkungan Gedung Sate, tetapi juga di Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Dedi meyakini, WFH ini sangat efisien untuk mengurangi beban listrik, air, bahkan kepadatan lalu lintas di jam pulang kerja ASN.

"Menurut saya sangat efisien. Satu, orang tetap bekerja, dua listrik irit, tiga air irit dan jalan tidak macet," ujar Dedi di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis 6 November 2025.

Dia juga mengimbau kabupaten/kota untuk melakukan hal serupa, sebagai langkah efisiensi, seiring dipangkasnya dana transfer ke daerah (TKD) oleh pemerintah pusat.

"Dianjurkan juga karena mereka juga terbatas sekarang belanjanya. Dan kita coba loh nanti dengan mereka bekerja di rumah, nanti ke depan terhadap postur APBD bagaimana, output, outcome benefit-nya seperti apa," ucapnya.

Disinggung soal Kota Bandung dan Cimahi yang tidak melakukan mereka, Dedi tidak melarang. "Ya terserah mereka, tapi kalau mereka kedodoran keuangan, jangan minta sama kita," katanya.

Dedi menargetkan, dari WFH ini dapat mengurangi beban tagihan listrik dan air Pemprov Jabar hingga 75 persen.

"75 persen. Kalau 100 (juta), kita 75 pengen ngirit. 25 baru dibayarkan," katanya.

Selain mengurangi jumlah orang di kantor, WFH ini juga menjadi media Pemprov Jabar untuk menekan belanja tunjangan kinerja ASN.

"Dia bekerja di rumah, nanti akan kami buat sistem. Beda tunjangan kinerjanya antara yang bekerja di lapangan dengan tingkat resiko yang tinggi, dengan yang bekerja di rumah. Nanti beda, nanti beda. Ini yang orientasi-orientasi yang akan dilakukan oleh kita," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani