Dedie Berharap Gak Ada Polemik dalam Pembangunan Jembatan Gang Warung Pala

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim meminta agar kontraktor perbaikan jembatan Gang Warung Pala, Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tidak menimbulkan polemik.

Dedie Berharap Gak Ada Polemik dalam Pembangunan Jembatan Gang Warung Pala

INILAHKORAN, bogor - Wakil Wali Kota bogor Dedie A Rachim meminta agar kontraktor perbaikan jembatan gang warung pala, Kelurahan Muarasari, Kecamatan bogor Selatan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tidak menimbulkan polemik.

Pihak kontraktor akan ditegur, kemudian Pemkot bogor tidak bosan-bosannya untuk meninjau progres pengerjaan pembangunan.

"Jembatan warung Pala yang penting sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Tetapi adany ramai-ramai itu karena pemborongnya dan akan ditegur oleh PUPR. Kami akan koordinasi kan langkah-langkah lanjutan. Tentunya akan sering-sering ditinjau," ungkap Dedie kepada INILAH pada Selasa (30/5/2023) siang.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota bogor Rena Da Frina angkat bicara. 
Rena membenarkan, kontraktor pelaksana Jembatan Warung Pala terlambat membayar upah pekerja.

"Memang ini masalah internal sebenarnya, ada yang bilang gak dibayar, atau telat bayar upah. Yang penting, saya sudah beberapa kali mengingatkan hal-hal yang seperti itu jangan lagi sampai terjadi," tegas Rena kepada wartawan.

Meski demikian, Rena menuturkan, permasalahan yang ada pada pengerjaan Jembatan Warung Pala merupakan masalah internal perusahaaan, sehingga dalam hal ini Dinas PUPR Kota bogor tidak mau ikut campur terlalu jauh. 
Rena mengaku, sudah beberapa kali mengingatkan kepada kontraktor hal-hal yang seperti ini jangan sampai terjadi lagi.

"Tolong diberesin, saya gak mau terlalu ikut terlalu jauh tetapi yang jelas saya bilang harus defiasi positif, jangan isu-isu seperti ini dibiarkan.Karena yang paling saya wanti-wanti dari awal pekerjaan adalah jangan sampai keringat orang sudah kering, tapi belum dibayar. Itu namanya menzolimi," jelas Rena.

Rena juga mengungkapkan, selain mengalami keterlambatan pembayaran upah, pekerjaan jembatan juga mengalami deviasi negatif. 

"Mau tidak mau kita setiap hari harus pantau juga seperti Jembatan Otista. Tapi ketika itu bisa membantu untuk menambah tingkat positif ya kita akan lakukan," terang mantan Camat bogor Timur ini.

Rena meminta, agar pelaksana proyek benar-benar melakukan pekerjaan pembangunan jembatan dengan baik, sesuai dengan kurva S dengan jadwal.
Saat ditanya kendala yang dihadapi pelaksana, Rena menegaskan, sebenarnya tidak ada masalah apalagi sejumlah material kebutuhan pembangunan seperti besi dan sebagainya sudah masuk.

"Tinggal pekerjaanya saja, ada penggantian pekerja mungkin gak sesuai dengan perjanjian standar mereka, target (pengerjaan) empat bulan atau September," pungkasnya.

Seperti diketahui, pembangunan jembatan Warung Pala, Kelurahan Muarasari, Kecamatan bogor Selatan, Kota bogor, yang sebelumnya ambruk, diduga bermasalah. Adapun pekerjaan pembangunan jembatan yang menghubungkan dua RW yang dilakukan pada awal Mei 2023, terlambat melakukan pembayaran upah kepada pekerja.

Ketua RW 02 Muarasari, Suherman mengatakan, memang ada beberapa warganya yang bekerja di proyek pembangunan jembatan tersebut dan mengalami keterlambatan pembayaran upah.

"Ada warga saya yang ikut kerja di situ, beberapa waktu kemarin memang terlambat dibayarnya," ungkap Suherman, Minggu (28/5/2023).

Menanggapi hal itu, Lurah Muarasari, Mugi Mulyawan mengaku belum mengetahui informasi tersebut, dan belum pernah bertemu dengan pelaksana proyek pembangunan jembatan tersebut sebelumnya. 
Bahkan ditambahkan Mugi, jika pihak kontraktor dinilai tidak kooperatif sejak awal proses pengerjaan.

"Kami dari pihak kelurahan serta yang ada di wilayah tidak dianggap," kata Mugi.

Ia menuturkan, saat ada rencana kunjungan sidak Wali Kota bogor, Bima Arya pada Kamis 25 Mei 2023, baru bertemu dengan kontraktor.

"Dari pertama, baru ketemu sama kontraktor dan pegawainya ada. Itu juga mungkin karena ada info pak wali mau sidak," ujarnya.

Mugi mengatakan, pengerjaan yang sudah hampir memakan waktu satu bulan tersebut baru melakukan proses penggalian pondasi.*** (Rizki Mauludi)


Editor : JakaPermana