Demi Gedung Sate-Gasibu, Dedi Mulyadi Pangkas Biaya Operasional Gubernur
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengungkapkan, proyek revitalisasi Gedung Sate senilai Rp15,82 miliar berasal dari pemangkasan anggaran operasionalnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengungkapkan, proyek revitalisasi Gedung Sate senilai Rp15,82 miliar berasal dari pemangkasan anggaran operasionalnya.
Dia terpaksa memangkas berbagai pos anggaran operasionalnya. Itu dilakukan untuk mendanai revitalisasi ruang publik yang akan menghubungkan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu.
Dedi menekankan, tidak ada perubahan pada bangunan utama Gedung Sate karena statusnya sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Fokus pemerintah hanya pada penataan kawasan luar agar lebih fungsional dan terintegrasi.
"Halaman Gedung Sate bukan membangun merubah Gedung Sate. Karena itu merupakan bangunan heritage yang dilindungi oleh undang-undang," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan saat ini lebih bersifat perawatan, termasuk pengecatan bangunan yang sudah lama tidak dilakukan. Proses tersebut pun harus melalui prosedur ketat dengan izin dari Kementerian Kebudayaan.
"Dan mengecatnya pun harus izin dari Kementerian Kebudayaan. Kemudian harga catnya juga bikin melongo. Ya tapi itu harus dilakukan demi kecintaan kita terhadap peninggalan sejarah bangsa kita," ucapnya.
Dedi tak menampik, Gedung Sate merupakan warisan era kolonial Hindia Belanda. Namun ia menegaskan, nilai historis bangunan tersebut tetap menjadi bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga.
"Walaupun dibangunnya oleh pemerintah kolonial Belanda, tapi kan pekerja kulnya kan orang Indonesia dan uangnya juga dari Indonesia," katanya.
Dia juga membawa pengalaman masa lalu, saat menjabat Bupati Purwakarta sebagai pembanding. Penataan ruang publik yang menggabungkan Alun-alun Kian Santang dengan kawasan pendopo sempat menuai kritik, namun kini justru menjadi ruang bersama yang dimanfaatkan luas oleh masyarakat.
"Karena dulu pernah melakukan penataan halaman penggabungan antara Alun-alun Kian Santang Purwakarta dengan halaman pendopo. Awalnya diprotes, tapi sekarang hasilnya bisa dinikmati bersama,' tegasnya.
revitalisasi kawasan Gedung Sate-Gasibu ini ditargetkan menjadi ruang publik ikonik yang lebih luas, nyaman, dan inklusif, tidak hanya bagi warga Bandung tetapi juga masyarakat Jawa Barat dan wisatawan.
"Semoga halaman Gedung Sate dan Gasibu, dan halaman Gedung Sate ketika disatukan, hasilnya bisa dinikmati bersama," kata Dedi.
Dari sisi pembiayaan, Dedi secara terbuka menyebutkan langkah efisiensi yang ditempuh. Sejumlah anggaran yang melekat pada jabatan gubernur dialihkan untuk proyek tersebut.
"Perjalanan dinas gubernur dihapus, satu setengah miliar. Baju dinasnya dihapus, pemeliharaan mobil dinasnya dihapus, pembelian mobil dinasnya dihapus, semuanya dihapus," paparnya.
Baginya, pilihan ini adalah konsekuensi kepemimpinan, mengalihkan anggaran yang bersifat personal menjadi manfaat nyata bagi publik, meski berisiko memancing kritik.
"Ayo pilih mana? Pilih uangnya saya habiskan tapi tidak ada yang marah, atau pilih saya gunakan untuk kepentingan yang bermanfaat," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani


