Dedi Mulyadi Buka Suara soal Revitalisasi Gedung Sate Rp15,8 Miliar
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi buka suara soal polemik anggaran revitalisasi Gedung Sate
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Polemik revitalisasi kawasan Gedung Sate yang menelan anggaran sekitar Rp15,8 miliar terus bergulir. Menjawab kritik yang muncul, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta publik tidak terburu-buru menilai proyek tersebut sebelum seluruh pekerjaan selesai.
Penataan kawasan yang menjadi ikon Jawa Barat itu mencakup integrasi halaman depan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu, pembongkaran bangunan Perpustakaan Gasibu, serta pengecatan ulang Gedung Sate yang selama ini dinilai mulai kehilangan kemegahannya.
Sorotan publik mengemuka, karena proyek tersebut berjalan di tengah meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Barat. Data menunjukkan sebanyak 25.542 pekerja kehilangan pekerjaan sejak 2025 hingga semester pertama 2026.
Namun, Dedi menegaskan manfaat revitalisasi baru bisa diukur setelah hasil akhirnya terlihat. Ia meminta masyarakat menunggu hingga seluruh pekerjaan tuntas, sebelum menyimpulkan apakah proyek tersebut layak atau tidak.
"Begini, sesuatu akan terasa manfaatnya setelah selesai. Nanti kita lihat aja selesai revitalisasi ini manfaatnya besar atau tidak. Itu yang pertama," ujar Dedi, Kamis (30/7/2026).
Dedi juga membantah anggapan, revitalisasi Gedung Sate dilakukan dengan menambah beban anggaran baru pemerintah daerah. Menurutnya, pendanaan proyek berasal dari efisiensi belanja yang berada dalam lingkup anggaran gubernur.
"Yang kedua, alokasi kita siapkan itu hasil efisiensi di internal anggaran gubernur sendiri," ucapnya.
Ia menilai, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki wajah kawasan pusat pemerintahan Jawa Barat agar lebih representatif sebagai ruang publik dan destinasi kebanggaan masyarakat.
Menurut Dedi, salah satu pekerjaan penting dalam revitalisasi adalah pengecatan Gedung Sate yang selama puluhan tahun tidak dilakukan secara menyeluruh sehingga tampak kusam.
"Ketiga, puluhan tahun Gedung Sate tidak pernah di cat, kusem. Baru sekarang Gedung Sate di cat secara benar. Sekarang cerah, makanya lihat saja nanti," katanya.
Meski kritik terus bermunculan, Dedi mengaku tidak mempermasalahkannya. Ia menilai kritik merupakan bagian dari dinamika pemerintahan dan respons yang wajar terhadap setiap kebijakan publik.
"Kalau kritik dan otokritik ya biasa," ujarnya.
revitalisasi Gedung Sate sendiri diproyeksikan menjadi bagian dari penataan kawasan yang terhubung dengan ruang publik Gasibu.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap, kawasan tersebut nantinya menjadi lebih terbuka, nyaman, dan memiliki nilai estetika yang lebih kuat sebagai salah satu landmark utama Jabar.
Editor : Ahmad Sayuti

