Demi Lindungi Identitas Korban Jeffrey Epstein, Hakim Putuskan Batalkan Sidang

Hakim AS saat ini telah memutuskan untuk membatalkan sidang terkait kasus Jeffrey Epstein untuk melindungi identitas korban.

Demi Lindungi Identitas Korban Jeffrey Epstein, Hakim Putuskan Batalkan Sidang
Jeffrey Epstein dan para korban.

INILAHKORAN, Bandung - Saat ini sudah banyak korban yang membuka suara mereka untuk memberi kesaksian terkait kasus Jeffrey Epstein.

Kini, seorang hakim federal Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk membatalkan sidang pengadilan yang telah dijadwalkan.

Pembatalan ini dilakukan setelah Departemen Kehakiman AS mencapai kesepakatan pada menit-menit terakhir untuk melindungi identitas para korban Jeffrey Epstein.

Tindakan tersebut diambil menyusul kegagalan besar dalam penyuntingan yang meluas pada publikasi Epstein file atau dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein secara besar-besaran.

Hakim Pengadilan Distrik AS Richard M. Berman, menyatakan bahwa pengacara para penyintas Epstein dan Departemen Kehakiman telah menyelesaikan kekhawatiran terkait privasi, setelah apa yang oleh pengacara korban, Brittany Henderson, gambarkan sebagai “diskusi yang ekstensif dan konstruktif.”

“Kami percaya bahwa kekurangan tersebut akan segera diperbaiki dengan cara yang melindungi para korban dari bahaya lebih lanjut,” tutur Henderson dalam surat yang diajukan ke pengadilan.

Menanggapi surat pengacara itu, Richard M. Berman mengatakan dirinya senang, namun tidak terkejut, bahwa para pihak mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Dia akhirnya memutuskan untuk membatalkan sidang terbuka yang semula dijadwalkan berlangsung Rabu di Pengadilan Federal Manhattan.

Kesepakatan itu tercapai setelah lebih dari tiga juta file terkait Jeffrey Epstein dirilis pada pekan lalu. 

Para pengacara korban menyatakan ribuan dokumen tersebut memuat informasi sensitif, termasuk nama, foto, alamat email, serta detail perbankan para korban.

Dalam dokumen pengadilan yang diajukan, Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, menyebutkan bahwa pihaknya telah menarik beberapa ribu dokumen dan materi media akibat kesalahan teknis atau human error, serta merevisi protokol penyuntingan dokumen.

Para korban menyampaikan kepada pengadilan bahwa pengungkapan informasi tersebut berdampak sangat serius.

Salah satu korban menyebut rilis dokumen itu “mengancam nyawa”, sementara korban lainnya mengaku menerima ancaman pembunuhan setelah informasi keuangannya dipublikasikan.

dokumen-dokumen tersebut berasal dari penyelidikan federal terkait perdagangan seks yang melibatkan Jeffrey Epstein, yang meninggal dunia akibat bunuh diri pada 2019 saat menunggu persidangan.***


Editor : Irma Nurfajri