Diduga Tangki SPBU Bocor, Warga Sukajaya Keluhkan Air Sumur yang Berbau BBM

Warga RT02/05, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengeluhkan kondisi air sumur yang mengeluarkan bau menyengat bahan bakar minyak (BBM).

Diduga Tangki SPBU Bocor, Warga Sukajaya Keluhkan Air Sumur yang Berbau BBM
Warga RT02/05, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengeluhkan kondisi air sumur yang mengeluarkan bau menyengat bahan bakar minyak (BBM).

INILAHKORAN, Ngamprah - Warga RT02/05, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengeluhkan kondisi air sumur yang mengeluarkan bau menyengat bahan bakar minyak (BBM).

Kondisi itu sudah berlangsung hampir lima bulan. Imbasnya, warga kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari, termasuk ancaman kesehatan.

Warga menduga air sumur mereka tercemar akibat adanya kebocoran tangki penyimpanan SPBU yang berada di Jalan Kolonel Masturi, tepat di depan permukiman warga. 

Bahkan, dari 11 sampel air sumur yang diperiksa warga, delapan di antaranya mengeluarkan bau BBM ketika dimasukkan ke botol bekas air mineral dan hanya tiga sampel yang masih bebas dari aroma menyengat. 

“Total ada 22 sumur yang sudah terindikasi tercemar. Warga jadi kesulitan, untuk minum harus beli galon, sedangkan untuk mandi ada yang menumpang ke tetangga," kata Ketua RT 02 Sukajaya, Hadiat belum lama ini.

"Selain itu, anak-anak juga mengalami gatal-gatal dan panas di tenggorokan jika terkena air,” sambungnya.

Tak cuma itu, sebut Hadiat, beberapa ekor sapi milik warga dilaporkan mengalami sakit perut dan kembung, 

"Jadi ada beberapa sapi milik warga yang terpaksa dipotong karena kondisi memburuk akibat diberi minum air yang tercemar BBM," ucapnya. 

Menurutnya, pihak pengelola SPBU sempat berjanji bakal membuat sumur baru dan menyediakan pasokan air bersih. Namun, hingga kini janji tersebut belum direalisasikan.

“Sudah hampir lima bulan, warga hanya diberi janji. Padahal kebutuhan air tidak bisa ditunda," tuturnya.

Warga lainnya, Ida Rosida menyebut, hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan Kota Bandung menunjukkan air sumur tersebut tidak layak konsumsi.

“Hasil lab jelas, bakteriologinya positif, banyak bakteri berbahaya. Kandungan timbal juga jauh di atas batas aman. Harusnya 0,01, tapi hasilnya 0,164. Ini sudah berunsur minyak,” ujarnya.

Pihaknya berharap Pemkab Bandung Barat segera turun tangan, mengingat hasil laboratorium sudah membuktikan pencemaran berbahaya. 

Menurutnya, seluruh warga menolak solusi berupa kompensasi uang, karena kebutuhan air bersih tidak bisa digantikan dengan nominal.

“Kalau hanya diberi uang Rp10 juta per orang, itu tidak akan cukup untuk seumur hidup beli air," ujarnya.

"Kami minta solusi nyata, pasokan air bersih setiap hari atau sumur pengganti yang benar-benar aman. Kalau tidak segera ada solusi, warga akan menutup paksa SPBU,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana