INILAHKORAN, Bogor - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno menuturkan, pihaknya mencatat
lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (
ISPA) sepanjang 2025.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), tercatat 195.203 kasus hingga pekan ke-41 tahun ini.
"Ya, peningkatan kasus mulai terlihat sejak pertengahan tahun. Dari 21.006 kasus pada Juli, jumlahnya melonjak menjadi 30.950 kasus pada Agustus, sebelum sedikit menurun menjadi 26.597 kasus di September. Kalau kita lihat lebih rinci secara mingguan, tren kenaikan terjadi selama lima minggu berturut-turut, mulai pekan ke-37 sampai ke-41," ungkap Retno kepada wartawan pada Selasa 21 Oktober 2025.
Retno menjelaskan, rinciannya, pada pekan ke-37 tercatat 6.214 kasus, lalu meningkat menjadi 6.578 pada pekan ke-38, 7.163 pada pekan ke-39, dan 7.002 pada pekan ke-40. Angka tertinggi terjadi pada pekan ke-41 dengan 7.508 kasus.
"Ini merupakan jumlah tertinggi sepanjang tahun 2025. Sebagai langkah antisipasi,
Dinkes Kota Bogor meminta seluruh puskesmas dan rumah sakit memperkuat sistem kewaspadaan dini," jelasnya.
Retno melanjutkan, selain itu, upaya promosi kesehatan dan edukasi masyarakat tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus digencarkan.
"Warga diimbau menjaga kebersihan rumah dan ventilasi udara, menghindari asap rokok, polusi, serta memperkuat daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi dan istirahat cukup," terang Retno.
Retno memaparkan, pentingnya menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan dengan sabun secara rutin dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala
ISPA.
ISPA merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah, dengan gejala seperti batuk, pilek, demam, hingga sesak napas.
"
ISPA dapat disebabkan oleh virus seperti influenza, parainfluenza, rhinovirus, adenovirus, RSV, hingga coronavirus, serta bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae," paparnya.
"Faktor lingkungan juga berperan besar dalam peningkatan kasus, termasuk polusi udara, asap rokok, debu, cuaca dingin, dan kepadatan permukiman. Penularannya cepat, terutama di tempat ramai dan rentan menyerang anak-anak serta lansia," pungkas Retno.***