Dinkes Jabar Imbau Masyarakat Terapkan PHBS Cegah Penyakit Campak Menular

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Vini Adiani Dewi kembali mengingatkan masyarakat, agar menerapkan pola Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Dinkes Jabar Imbau Masyarakat Terapkan PHBS Cegah Penyakit Campak Menular
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Vini Adiani Dewi kembali mengingatkan masyarakat, agar menerapkan pola Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), guna menekan penularan campak.

Vini mengatakan, virus campak sangat mudah menular melalui percikan air liur atau droplet. Penyakit ini penularannya kata dia, layaknya Covid-19.

"Kalau dia (virus campak) hingga di barang, dipegang oleh kita, terhirup oleh kita, ngucek-ngucek mata, nah itu akan tertular," ujar Vini saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (12/4/2026).

Maka dari itu, penerapan PHBS harus dilakukan. Sedangkan untuk penderita, agar tidak menularkan campak, diwajibkan diisolasi dan menggunakan masker.

"Supaya tidak menularkan ke orang lain. Dan tentu meningkatkan daya tahan tubuh, karena virus campak itu tidak ada obatnya," ucapnya.

Bila tertular campak lanjut Vini, penderita disarankan untuk rajin minum Vitamin A guna mempercepat pemulihan.

"Paling utama, adalah diberikan kapsul Vitamin A," ucapnya.

Sebelumnya, Vini mengatakan, sejak Januari 2026, berdasarkan laporan dari 15 kabupaten/kota, terdata ada 258 kasus campak yang terjadi di Jabar.

"Sampai minggu ke 11, itu ada 258 kasus di Jawa Barat. Dari 15 kabupaten/kota," kata.

Kasus terbanyak lanjut dia, terjadi di Kota Tasikmalaya. Lebih lanjut Vini mengatakan, penyakit campak tidak hanya sekadar gatal di kulit. Gatal di kulit hanya terjadi bagi orang yang pernah diimunisasi.

"Kalau orang belum diimunisasi, itu bisa terjadi radang otak, radang paru-paru, mata menjadi buta, pendengaran menjadi tuli. Bahkan yang paling bahaya itu ada namanya amnesia imun," katanya.

Amnesia imun ini papar Vini, yakni imun tubuh lupa akan tugasnya dalam memerangi penyakit dalam tubuh. 

"Jadi lupa, antibodi. Yang sudah divaksin pnemonia, nah antibodi tubuh lupa kalau sebetulnya ia itu tentara untuk mencegah pnemonia," katanya.

Maka dari itu, orang terkena campak kini harus terus diobservasi selama empat bulan hingga tiga tahun, guna memastikan ada dampak tambahan penyakit lain atau tidak dari campak tersebut. 

Ia mengungkapkan, 102 Ribu anak di Provinsi Jawa Barat terdata belum diimunisasi campak. Targetnya kata Vini, 102 ribu anak yang belum mendapatkan imunisasi di Jabar, bisa segera tervaksinasi campak.

Menggandeng pemerintah kabupaten/kota lanjut Vini, diharapkan mampu mempercepat pemberian vaksin campak dari program Imunisasi Kejar.

"Sekarang itu di setiap kabupaten/kota (dilaksanakan imunisasi). Nanti dikomunikasikan dengan Kementerian Kesehatan," ucapnya.

Bila lonjakan kasus terus terjadi, anak yang pernah mendapatkan imunisasi campak, berpotensi menjalani vaksinasi ulang bila kasus campak melonjak.

Program Outbreak Response Immunization (ORI) tegas Vini, telah disiapkan guna menghadapi kemungkinan tersebut.

"ORI itu adalah imunisasi pada seluruh anak usia 9-59 bulan, tanpa mengenal status imunisasi. Jadi, diimunisasi semuanya," ujarnya.

Jika kasus campak di Jabar terbilang landai, maka kata Vini akan dilakukan Catch Up Campaign (CUC).

"Jadi hanya bagi anak yang belum dilakukan imunisasi campak. Nah, tapi kalau untuk keseluruhan itu, para warga Jawa Barat yang belum diimunisasi itu, harus ikut namanya Imunisasi Kejar," ucapnya.

Untuk ORI kata dia, sudah dilakukan di Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Di mana pada dua daerah tersebut dilakukan imunisasi ulang secara menyeluruh.

Di saat yang sama, Dinkes Jabar juga menggenjot Catch Up Campaign (CUC) atau imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak rubella (MR) secara lengkap. Delapan daerah kini menjadi arena percepatan, meliputi Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Subang.


Editor : JakaPermana