Dinkes Jabar Ingatkan Ancaman ISPA Hingga Hepatitis di Musim Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, kini Jawa Barat tengah memasuki fase peralihan cuaca menuju musim kemarau.

Dinkes Jabar Ingatkan Ancaman ISPA Hingga Hepatitis di Musim Kemarau
Ilustrasi-net

INILAHKORAN.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, kini Jawa Barat tengah memasuki fase peralihan cuaca menuju musim kemarau.

Sejumlah wilayah di Jabar, secara bertahap per April hingga Juni 2026 akan beralih ke musim kemarau dan dihadapkan dengan fenomena El Nino, yang mana lebih kering dan durasi panjang ketimbang biasanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, Vini Adiani Dewi mengingatkan, ada sejumlah potensi penyakit yang marak terjadi di musim kemarau. Disebabkan kekurangan air bersih maupun sanitasi yang kurang baik.

Penularan penyakit melalui partikel kecil atau airborne lanjut Vini, harus diwaspadai masyarakat. Antaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Hepatitis, tipes hingga diare.

"Intinya, yang masuk melalui mulut, hidung. Artinya airborne melalui udara. Paling sering (terjadi) pasti ISPA. Terus Hepatitis, tipes, diare. Akibat kekurangan air bersih. Nah itu yang terjadi peningkatan. Termasuk sakit mata," ujar Vini saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Rabu (22/4/2026).

Meski potensi ancaman penyakit tersebut terbilang tinggi di musim kemarau, bukan berarti kata dia tidak dapat dicegah. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) lanjut Vini, lagi-lagi menjadi kunci guna menekan penularan penyakit di tengah masyarakat.

Ia berharap, kesadaran masyarakat akan pentingnya menerapkan pola PHBS tetap terjaga, guna memastikan tidak adanya korban akibat penyakit.

"Prinsipnya semua itu bisa dicegah. PHBS itu yang paling penting. Terus pakai masker, kalau berpergian, misalnya yang berkerumun gitu. Protokol kesehatan dan PHBS itu dilaksanakan. Itu bisa mencegah penyakit apapun," ucapnya.

Sementara mengenai penyakit Campak, yang sedang marak. Di mana terjadi peningkatan kasus di Kota Cirebon, sebanyak 150 suspek sejak Januari-April 2026, dengan dua korban meninggal dunia. 

Serta terjadi pergeseran tren, yang biasanya korban adalah bayi di bawah sembilan bulan karena belum divaksin, namun kini beralih ke remaja berusia 15-17 tahun, Vini mengungkapkan hal tersebut terjadi karen mereka sebelumnya belum pernah divaksinasi.

"Peningkatan kasus campak sekarang, di bawah 40 tahun bisa, itu 100 persen tidak pernah diimunisasi campak. Padahal 2022 kita sudah melakukan imunisasi ulang. Harusnya saat itu semua orang ikut," kata Vini.

Akibatnya seperti sekarang, ada korban bahkan sampai meninggal dunia. Padahal kata dia, bila sebelumnya pernah diimunisasi campak, jika tertular hanya berdampak ke kulit, tidak sampai membahayakan keselamatan.

Sampai saat ini, masih ada 72 persen orang yang belum diimunisasi campak di Jabar. Bila tidak diimunisasi ujar Vini, maka lonjakan kasus kembali terjadi di masa mendatang.

"Jadi, masyarakat harus mau diimunisasi. Kalau enggak, lihat 10, 20, 30 tahun yang akan datang. Sampai kita jadi meningkat seperti ini kan gitu," tuturnya.

Vini juga menegaskan, berbeda dengan penyakit musiman lainnya, campak tidak dipengaruhi faktor cuaca, melainkan sangat bergantung pada cakupan imunisasi dan penerapan PHBS di masyarakat.***


Editor : JakaPermana