Waspada Campak Saat Mudik Lebaran 2026, Dinkes Jabar Siapkan Vaksin Gratis

Dinas Kesehatan Jawa Barat mengingatkan masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik Idulfitri 2026 untuk meningkatkan kewaspadaan penularan virus campak.

Waspada Campak Saat Mudik Lebaran 2026, Dinkes Jabar Siapkan Vaksin Gratis
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan Jawa Barat mengingatkan masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik Idulfitri 2026 untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan virus campak.

Mobilitas tinggi selama musim mudik dinilai berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular tersebut.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan menyiapkan layanan vaksinasi campak gratis di ratusan pos kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat. Posko tersebut juga menjadi tempat pemeriksaan kesehatan bagi pemudik yang membutuhkan layanan medis selama perjalanan.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Klinis Dinas Kesehatan Jawa Barat, Selvia Gusrina mengatakan, vaksin campak tersedia di pos kesehatan, meskipun jumlahnya terbatas karena distribusinya dilakukan bersama puskesmas setempat.

"Jumlah vaksin ini terbatas kita kan kerja sama dengan Puskesmas-Puskesmas setempat ya," ujar Selvia, Senin 16 Maret 2026.

Menurutnya, penyediaan vaksin di posko mudik juga menjadi solusi bagi masyarakat yang kesulitan memperoleh vaksin di fasilitas kesehatan, terutama di tengah meningkatnya kasus campak yang di sejumlah daerah telah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Selvia menjelaskan, beberapa rumah sakit bahkan telah menanyakan status KLB campak kepada Dinas Kesehatan Jawa Barat untuk memastikan skema pelayanan kepada pasien. Namun, penetapan status KLB sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah kabupaten dan kota.

"Jadi ketika kepala daerah masing-masing di pemerintahan kabupaten kotanya mengeluarkan surat bahwasanya itu tok palu sudah menjadi suatu kasus KLB maka untuk seluruh pembiayaan itu ditanggung oleh pemerintah kabupaten kotanya masing-masing," ucapnya.

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian besar kasus campak di Jawa Barat terjadi pada anak-anak yang tidak memiliki riwayat imunisasi. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi upaya pencegahan penyakit menular.

"Jadi rata-rata memang tidak divaksin anak-anaknya gitu. Jadi ya mungkin jadi PR juga ya ke teman-teman agar menggiatkan lagi gimana cara sebenarnya masyarakat paham bahwa sebegitu pentingnya vaksin campak," katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi menilai penolakan imunisasi oleh sebagian kelompok masyarakat turut memicu kembali munculnya kasus campak.

"Kasus campak terjadi karena masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Sehingga yang penting harus imunisasi, karena campak adalah virus yg mudah menular," kata Vini.

Ia menegaskan, campak bukan penyakit ringan karena dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak yang tidak memiliki perlindungan imunisasi.

"Bila tidak diimunisasi, akan menyebabkan radang otak, kebutaan, radang paru dan malnutrisi berat," ucapnya.

Dinas Kesehatan Jawa Barat pun mengimbau masyarakat untuk segera melakukan langkah pencegahan jika mengalami gejala campak, sekaligus mencegah penularan ke orang lain.

"Isolasi mandiri, memakai masker, berobat ke Fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan)," kata dia.

Sebagai gambaran situasi nasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat hingga 23 Februari 2026 terdapat 8.224 kasus suspek campak di Indonesia. Dari jumlah tersebut dilaporkan empat kasus kematian.

Pada periode yang sama, tercatat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, 13 KLB di enam provinsi telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

Lima provinsi dengan jumlah kejadian luar biasa campak terbanyak antara lain Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.***


Editor : JakaPermana