Dinkes Tasikmalaya Catat 116 Kasus HIV/AIDS Baru hingga Agustus 2026
Dinkes Kota Tasikmalaya mencatat 116 kasus baru HIV/AIDS hingga Agustus 2026, dengan temuan terbanyak pada kelompok usia 21-30 tahun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat 116 kasus baru HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Temuan tersebut diperoleh dari kegiatan skrining terhadap kelompok masyarakat berisiko.
Dari jumlah tersebut, kelompok usia 21-30 tahun menjadi penyumbang temuan terbanyak dengan 59 kasus. Disusul kelompok usia 31-40 tahun sebanyak 28 kasus, usia 41-50 tahun 14 kasus, dan usia 11-20 tahun sebanyak 11 kasus. Sementara itu, sejumlah kasus lainnya ditemukan pada kelompok usia 51-60 tahun.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, mengatakan skrining dilakukan sebagai bagian dari upaya menemukan kasus HIV sedini mungkin, terutama pada kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi.
“Dinkes sendiri gencar melakukan jemput bola kepada masyarakat risiko tinggi yang rentan terpapar kasus, termasuk edukasi dan pemeriksaan gratis,” ujar Suryaningsih, Jumat (25/9/2026).
Ia menyebut, dari hasil pemeriksaan pada periode Januari hingga Agustus 2026, kasus positif paling banyak ditemukan pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki atau LSL.
“Kasus HIV/AIDS risiko tinggi pada jenis kelamin laki-laki di wilayah kami mencapai 84 persen dan perempuan 16 persen. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Jika dilihat secara kumulatif, kasus HIV/AIDS yang tercatat di Kota Tasikmalaya sejak 2004 hingga 2026 mencapai 1.623 kasus. Lebih dari 400 orang di antaranya tercatat telah meninggal dunia.
Berdasarkan wilayah, akumulasi kasus tertinggi berada di Kecamatan Tawang dengan 200 kasus. Berikutnya Cihideung sebanyak 195 kasus, Cipedes 160 kasus, serta Kawalu dengan 111 kasus.
Dinkes menegaskan angka kumulatif tersebut merupakan catatan kasus yang dihimpun dari tahun ke tahun dan masih menjadi bagian dari pemantauan kesehatan masyarakat.
Suryaningsih menjelaskan, HIV dapat menular melalui paparan cairan tubuh tertentu, termasuk darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Karena itu, pemahaman mengenai cara penularan dinilai penting agar masyarakat dapat melakukan pencegahan sekaligus menghindari stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.
Menurutnya, seseorang yang telah terinfeksi HIV tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan menjalani pengobatan secara teratur.
“Salah satu penanganannya melalui konsumsi obat antiretroviral (ARV) secara rutin dan seumur hidup,” ujarnya.
Penguatan skrining, edukasi, serta pemberian akses pengobatan terus dilakukan Dinkes Kota Tasikmalaya untuk mempercepat penemuan kasus dan mengurangi risiko penularan HIV di masyarakat.
Editor : Ahmad Sayuti

