Disdik KBB Tawarkan Strategi Adaptif Pemerataan Pendidikan Teknologi
Pemerataan pendidikan teknologi di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih dihadapkan tantangan besar akibat kesenjangan infrastruktur digital.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerataan pendidikan teknologi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih dihadapkan pada tantangan besar akibat kesenjangan infrastruktur digital.
Realitas ini terlihat jelas dari perbedaan fasilitas yang mencolok antara sekolah di kota besar dengan laboratorium canggih dan sekolah di pelosok yang masih kesulitan akses listrik serta sinyal internet.
Menjawab tantangan tersebut, Disdik KBB menghadirkan sejumlah strategi adaptif dan bertahap agar pendidikan teknologi tidak tertunda menunggu infrastruktur sempurna.
Sekretaris Disdik KBB Rustiyana mengakui tantangan utama yang dihadapi saat ini yakni ketersediaan perangkat keras (hardware) dengan rasio komputer terhadap siswa yang masih rendah di banyak daerah.
"Sebagai solusi jangka pendek, kami mendorong konsep 'Pusat Sumber Belajar'. Sekolah yang memiliki fasilitas lebih lengkap di satu kecamatan dijadikan sebagai hub atau sekolah inti," kata Rustiyana.
"Nantinya, sekolah-sekolah di sekitarnya bisa datang dan menggunakan laboratorium secara bergilir. Semangat gotong royong ini menjadi kunci efisiensi sumber daya yang ada," sambungnya.
Selain perangkat, ungkap Rustiyana, masalah konektivitas juga menjadi perhatian serius. Menyadari belum semua wilayah terjangkau jaringan fiber optic, kurikulum dan materi pembelajaran dirancang agar dapat berjalan secara offline.
"Kami memastikan materi dan perangkat lunak koding bisa diunduh satu kali di lokasi yang memiliki sinyal memadai, lalu digunakan seterusnya tanpa internet," imbuhnya.
"Langkah ini penting agar proses belajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) tidak terhenti hanya karena gangguan sinyal," tambahnya.
Salah satu strategi paling inovatif yang diterapkan, sebut Rustiyana, yakni metode CS Unplugged (Ilmu Komputer Tanpa Komputer).
Menurutnya, pendekatan yang diakui secara global ini mengajarkan konsep logika, algoritma, dan bilangan biner menggunakan alat peraga fisik seperti kartu, tali, atau permainan gerak tubuh.
"Dengan metode ini, siswa tetap mendapatkan esensi cara berpikir komputasional yang kuat, yang nantinya bisa dengan mudah ditransfer ke komputer saat fasilitas sudah tersedia," tuturnya
Oleh karena itu, Dinas pendidikan juga mendorong strategi Bring Your Own Device (BYOD) secara bijak. Mengingat penetrasi smartphone di masyarakat jauh lebih tinggi daripada komputer, pembelajaran koding tidak lagi terpaku pada PC desktop, melainkan memanfaatkan aplikasi berbasis blok yang ringan dan bisa berjalan di HP siswa.
"Ponsel yang biasanya hanya dipakai untuk media sosial, kini diubah fungsinya menjadi alat belajar pemrograman yang efektif," paparnya.
"Selain itu, aplikasi koding modern kini banyak yang berbasis web (cloud-based) sehingga tidak membutuhkan spesifikasi tinggi, laptop tua pun sudah cukup," ungkapnya.
Untuk mendukung pelaksanaan ini, Rustiyana menyebutkan adanya dukungan dari berbagai pihak. Sekolah didorong menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pengadaan alat.
"Selain itu, fleksibilitas dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga dimanfaatkan untuk kebutuhan digitalisasi yang mendesak," ucapnya.
Dikatakan Rustiyana, tantangan teknis seperti perawatan perangkat juga dijawab dengan solusi kreatif. Siswa SMK jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) diberdayakan untuk melakukan perawatan berkala di sekolah-sekolah sekitar sebagai bagian dari praktik kerja, menciptakan simbiosis mutualisme.
"Tak kalah penting adalah perubahan pola pikir. Sering kali hambatan terbesar bukan pada alatnya, melainkan ketakutan guru atau kepala sekolah menggunakan teknologi karena takut rusak," katanya.
"Melalui pelatihan dan pendampingan, kami berikan pemahaman bahwa perangkat adalah alat kerja yang wajar aus, dan yang terpenting adalah manfaat pembelajarannya," sambungnya.
Rustiyana menegaskan, keterbatasan infrastruktur tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pendidikan masa depan.
"Dengan kombinasi metode unplugged, optimalisasi gawai pribadi, kerja sama antarsekolah, dan materi yang ramah spesifikasi rendah, kami yakin KBB bisa terus maju," bebernya.
"Kita membangun jembatan digital ini sambil berjalan; tidak perlu menunggu jembatannya sempurna dulu baru kita mulai menyeberang," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

