Angka Stunting Capai 30,8%, P4KBB Gandeng Dinkes dan Lions Club Cegah Pernikahan Dini

Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tercatat mencapai 30,8%. Sementara, Kabupaten Cianjur mencatat prevalensi terendah sebesar 7,2%.

Angka Stunting Capai 30,8%, P4KBB Gandeng Dinkes dan Lions Club Cegah Pernikahan Dini
Kolaborasi P4KBB, Dinkes KBB dan Lions Club Bandung Pesona berikan pelatihan bagi penyuluh untuk tekan angka stunting di KBB. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tercatat mencapai 30,8%. Sementara, Kabupaten Cianjur mencatat prevalensi terendah, yakni sebesar 7,2% pada 2026.

Kondisi ini menempatkan wilayah Kabupaten Bandung Barat sebagai salah satu dengan angka stunting tertinggi di Provinsi Jawa Barat. 

Tingginya angka tersebut memicu perhatian serius pemerintahan KBB yang kini memperkuat penanganan melalui pembentukan Satgas Percepatan Penanganan stunting serta kolaborasi lintas sektor dengan berbagai pihak, termasuk P4KBB dan Lions Club Bandung Pesona. 

Plt Kepala Dinas Kesehatan KBB Duddy Prabowo mengakui, penanganan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan semata, melainkan memerlukan intervensi menyeluruh, mulai dari tahap pranikah, masa kehamilan hingga pemantauan gizi balita di bawah dua tahun.

"Sebagai upaya memperluas jangkauan penyuluhan, Dinkes KBB bekerja sama dengan P4KBB dan Lions Club Bandung Pesona menggelar pelatihan bagi 35 orang calon penyuluh yang akan disebarkan ke sekolah menengah atas dan pesantren di seluruh wilayah KBB," kata Duddy saat ditemui, Jumat (4/9/2026).

Duddy menjelaskan, langkah tersebut dilakukan mengingat tingginya angka pernikahan dini di kalangan remaja perempuan, di mana lebih dari 60% lulusan perempuan SMA melangsungkan pernikahan tak lama setelah lulus.

"Kondisi yang secara signifikan meningkatkan risiko stunting pada keturunannya," jelasnya.

Duddy menyebut, pemerintahan KBB telah membentuk Satgas Percepatan Penanganan stunting yang melibatkan unsur tidak hanya dari kesehatan, tetapi juga perencanaan pembangunan, keluarga berencana, pemerintahan kewilayahan, hingga PKK dan organisasi masyarakat. 

"Berbagai intervensi program telah berjalan selama dua tahun terakhir, termasuk pemberian makanan tambahan berprotein hewani kepada ibu hamil dan balita," ucapnya.

Sedangkan, Ketua Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) Yaqob Anwar Lewi menuturkan para penyuluh yang mendapatkan pelatihan ini bakal datang ke sekolah jenjang SMA, SMK hingga MA untuk memberikan edukasi tentang bahaya stunting

"Kami latih 35 penyuluh yang akan disebar ke SMA dan pesantren. Lebih dari 60% perempuan lulusan SMA langsung menikah, ini risiko utama stunting," kata Yaqob. 

"Kalau mereka dikasih pemahaman sejak dini, bahayanya stunting bisa dicegah sejak hulu," sambungnya.

Tak cuma itu, ungkap Yaqob, para peserta pelatihan juga dibekali pendekatan psikologis dan emosional agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh sasaran.

"Kami berikan pemahaman sejak dini, bukan melarang nikah, tapi pahami risiko nikah muda dan pentingnya gizi sejak kehamilan," ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Lions Club Bandung Pesona Clara Juni Handayani mengakui pihaknya tergerak membantu karena melihat tingginya angka stunting di KBB dan berkomitmen untuk terus berbagi pengetahuan serta turun langsung ke masyarakat.

 "Kami memilih KBB karena angkanya sangat tinggi. Kami dari masyarakat untuk masyarakat, siapa lagi yang akan membantu kalau bukan kita sendiri," tegasnya. 

"Meski berbagai upaya telah dilakukan, angka 30,8% menunjukkan tantangan masih sangat besar, dan sinergi antar-pihak serta perubahan perilaku masyarakat menjadi cara untuk menurunkan angka tersebut secara signifikan," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani