Disebut-sebut Jadi Bagian Program Makan Gratis, IDI Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Susu Ikan
Topik susu ikan tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial lantaran susu ini rencananya akan menjadi alternatif pengganti susu di program makan bergizi gratis era pemerintahan Prabowo.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Topik susu ikan tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial lantaran susu ini rencananya akan menjadi alternatif pengganti susu di program makan bergizi gratis era pemerintahan Prabowo.
Pernyataan soal susu ikan itu pun menuai reaksi dari berbagai kalanga, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) baru-baru ini membagikan informasi terbaru terkait susu ikan.
Menurut penjelasan dari IDI, susu ikan, yang dikenal sebagai salah satu suplemen gizi, kini tengah diperbincangkan karena klaim-klaim mengenai manfaatnya yang mungkin tidak sepenuhnya didukung oleh data ilmiah.
"Semua orang sudah tahu bahwa ikan mengandung omega 3, itu keunggulannya dari ikan apalagi buat susu, omega 3 juga bagus untuk penyakit kanker, bagus buat jantung, perkembangan otak dan tentunya anti inflamasi,” ujar u dan Anak dan SDG’s PB IDI, Prof. dr. Agussalim Bukhari.
IDI menegaskan pentingnya memahami fakta dan bukti ilmiah sebelum mengadopsi produk kesehatan baru meski semua jenis ikan bisa dijadikan hodrolisat yang penyajiannya mirip susu.
Sebagai langkah antisipasi, IDI mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh promosi atau klaim tanpa dasar yang sahih.
Oleh karena itu, meskipun susu ikan mengandung protein, vitamin dan mineral, namun tidak cukup hanya dari satu sumber saja, harus ditambahkan dengan konsumsi lauk kaya protein, sayur, dan buah untuk mencukupinya.
Dalam proses pembuatannya susu ekstrak ikan ini juga perlu ditambahkan vitamin dan mineral yang hilang yang disebut fortifikasi.
“Susu sapi juga sekarang ada yang omega 3 tinggi karena ditambahkan, karena teknologi farmasi sekarang sudah canggih, tidak ada masalah yang kurang bisa ditambahkan bahkan yang berbahaya bisa dieliminasi,” ujarnya.
Menurut Agus, 'susu ikan' bisa dijadikan alternatif untuk yang sulit mendapatkan akses daging ikan dan pilihan lain dari susu sapi yang relatif lebih mahal.
Mereka juga mengingatkan untuk selalu mengkonsultasikan dengan tenaga medis profesional sebelum mengonsumsi suplemen atau produk kesehatan baru, termasuk susu ikan.
Informasi ini menjadi penting untuk memastikan bahwa masyarakat bisa membuat keputusan yang tepat dan terinformasi mengenai kesehatan mereka. IDI berkomitmen untuk terus memberikan edukasi dan informasi yang akurat mengenai berbagai isu kesehatan kepada publik.
Editor : Firda Rachmawati

