Doa Panjang Menuntun Kurnaesih Menuju Pulih

BIAYA sempat menjadi penghalang pengobatan Kurnaesih. Kini, bantuan Pemprov Jabar memberi titik terang.

Doa Panjang Menuntun Kurnaesih Menuju Pulih
AMBIL ALIH: Gubernur Dedi Mulyadi menyatakan, Pemprov Jabar mengambil alih penyelesaian pengobatan Kurnaesih yang dirawat di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.(ANTARA)

Harapan keluarga Kurnaesih akhirnya menemukan jalan. Di tengah kebutuhan biaya operasi jantung yang sempat membebani keluarga, bantuan datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Warga Desa Enggalwangi, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka itu kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan Pemprov Jabar akan mengambil alih penyelesaian biaya pengobatannya.

Kisah Kurnaesih mencuat setelah kedua anaknya, Mila dan Yapi, menyampaikan kondisi sang ibu melalui video yang beredar di media sosial. Mereka mengungkapkan kebutuhan biaya tambahan untuk penanganan kebocoran dua katup jantung, terutama katup kedua yang tidak seluruhnya terakomodasi BPJS Kesehatan.

Keluarga diperkirakan harus menyiapkan biaya tambahan sekitar Rp12 juta hingga Rp26 juta. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, angka tersebut bukan perkara ringan.

Persoalan itu kemudian mendapat perhatian Pemprov Jabar. Dedi memastikan biaya pengobatan Kurnaesih akan dibantu pemerintah.

"Selanjutnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menyelesaikan tagihan rumah sakitnya dan membantu pengobatan ibunda tercinta," ujar Dedi, Senin (28/9). 

Bagi keluarga Kurnaesih, bantuan tersebut menjadi titik terang di tengah proses pengobatan yang masih berjalan. Dedi pun menyampaikan doa agar Kurnaesih segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarganya.

"Semoga penyakitnya cepat berlalu, kembali seperti sedia kala, sembuh dan beraktivitas, berkumpul bersama keluarga," ucapnya.

Di tengah perhatian terhadap warga yang membutuhkan bantuan medis, Dedi juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Namanya, kata dia, masih kerap dicatut untuk berbagai modus penipuan di ruang digital.

Warga diminta tidak langsung percaya kepada akun atau pihak yang mengaku mewakili dirinya. Verifikasi perlu dilakukan sebelum menanggapi permintaan bantuan, transfer uang, maupun komunikasi lainnya.

Dedi menyebut praktik semacam itu masih ditemukan di sejumlah platform digital, mulai Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube. (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran