DP3AP2KB Kota Cimahi Ungkap Penyebab Maraknya Kekerasan Seksual di Kota Cimahi

Kasus kekerasan seksual dengan berbagai modus masih marak terjadi di Kota Cimahi. Terbaru, Love Scammer jadi fenomena yang tengah disoroti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi.

DP3AP2KB Kota Cimahi Ungkap Penyebab Maraknya Kekerasan Seksual di Kota Cimahi
ilustrasi

INILAHKORAN, Cimahi - Kasus kekerasan seksual dengan berbagai modus masih marak terjadi di Kota Cimahi. Terbaru, Love Scammer jadi fenomena yang tengah disoroti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi.

Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Perindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Cimahi tercatat sebanyak 45 laporan kasus kekerasan seksual sejak Januari hingga September 2024.

Selain itu, Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) juga menangani tiga kasus yang belum sampai pada tahap korban.

Kepala DP3AP2KB Kota Cimahi, Fitriani Manan tak memungkiri banyak kasus kekerasan seksual tidak terlaporkan, dengan perbandingan yang dilaporkan dan tidak terungkap bagaikan fenomena gunung es. 

"Korban sering enggan melapor karena merasa itu aib keluarga," kata Fitriani belum lama ini.

Menurutnya, pencegahan kekerasan seksual membutuhkan lingkungan yang kondusif, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial.

"Lingkungan yang mendukung dapat membantu anak-anak menghindari pengaruh negatif," tuturnya.

Meski begitu, Fitriani menekankan kepada masyarakat terkait pentingnya peran lingkungan dalam sosialisasi dan pencegahan kekerasan seksual, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Sebab, meskipun keimanan individu menjadi faktor penting, pengawasan terhadap anak-anak tidak selalu bisa dilakukan sepanjang waktu. 

"Tidak mungkin kita bisa memantau mereka selama 24 jam, begitu juga dengan orang tua atau guru di sekolah," kata Fitriani.

Tak hanya orang dewasa, sambung Fitriani, anak-anak juga perlu dibekali kecerdasan dalam memilih tayangan dan konten yang mereka akses.

"Ini tetap harus dalam pengawasan orang tua, serta lingkungan yang kondusif, baik di keluarga maupun di sekolah," katanya.

Lingkungan yang baik, menurut Fitriani, dapat mengurangi risiko anak-anak terpapar pengaruh buruk. Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran sosok ayah dalam keluarga. 

"Jika seorang anak, terutama perempuan, tidak mendapatkan sosok ayah sejak kecil, saat remaja ia akan lebih mudah terpengaruh oleh lawan jenis," paparnya.

Dengan demikian, kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial sangat penting untuk menciptakan kondisi yang aman dan mendukung bagi perkembangan anak.

Untuk penanganan lebih lanjut, masyarakat bisa menghubungi Call Center P2TP2A di 081243122244 yang melayani pada hari kerja, Senin hingga Jumat, pukul 09.00-16.00 WIB. 

"Sedangkan Call Center Puspaga Maheswari bisa dihubungi di nomor 082240309997," tutup Fitriani.*** 


Editor : JakaPermana