DPRD Jabar Dorong Prestasi PMR Jadi Jalur Khusus Sekolah Maung

Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Tom Maskun mendorong agar siswa jenjang SMP yang aktif dan berprestasi di Palang Merah Remaja (PMR),

DPRD Jabar Dorong Prestasi PMR Jadi Jalur Khusus Sekolah Maung
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Tom Maskun mendorong agar siswa jenjang SMP yang aktif dan berprestasi di Palang Merah Remaja (PMR),

INILAHKORAN.ID - Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Tom Maskun mendorong agar siswa jenjang SMP yang aktif dan berprestasi di Palang Merah Remaja (PMR), mendapat ruang lebih besar dalam program Sekolah Manusia Unggul (Maung). 

Menurutnya, karakter kepalangmerahan semestinya menjadi salah satu indikator penting dalam mencetak generasi unggul di Jawa Barat.

Dorongan itu muncul di tengah kekhawatiran terhadap menurunnya jumlah relawan kemanusiaan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap tenaga terlatih justru terus meningkat akibat tantangan sosial hingga kebencanaan.

Tom menilai program sekolah maung tidak boleh dipahami sekadar sebagai program pendidikan biasa, tetapi harus menjadi instrumen pembentukan karakter peserta didik, termasuk nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini tumbuh di lingkungan PMR.

“Sekolah Maung masih belum berjalan ya. Tapi maksud saya, paling tidak tujuan utama manusia unggulnya ini, salah satu karakternya kepalangmerahan,” kata Tom di DPRD Jabar baru-baru ini.

Ia mengusulkan, agar prestasi siswa di PMR, khususnya tingkat Madya atau SMP, dapat dijadikan salah satu pintu masuk jalur prestasi menuju sekolah lanjutan. 

Dengan skema tersebut, siswa yang aktif di PMR mendapat penghargaan konkret dari pemerintah berupa akses pendidikan yang lebih baik.

“Program ini, prestasi PMR itu menjadi salah satu pintu untuk teman-teman mendapatkan reward dari pemerintah ya, untuk mendapatkan fasilitas bagaimana untuk jalur prestasi,” ujarnya.

Menurut Tom, kebijakan ini penting untuk memperkuat kesinambungan kaderisasi relawan sejak usia sekolah. Siswa yang berprestasi di PMR Madya, kata dia, bisa diarahkan melanjutkan pengabdian di PMR Wira saat masuk SMA.

“Kalau kita mau membesarkan PMR ke depan, nanti yang berprestasi di PMR Madya (SMP) bisa menjadi rekomendasi jalur prestasi, untuk supaya nanti bisa mengembangkan PMR di WIRA,” katanya.

Tidak hanya sebatas akses sekolah, Tom juga membuka peluang adanya dukungan berupa beasiswa bagi siswa aktif PMR sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap pembinaan relawan kemanusiaan.

“Memberikan ruang, beasiswa mereka ini memberikan jalur prestasi. Ini juga salah satu kehadiran pemerintah, bagaimana untuk mendukung pola pembinaan relawan, implementasinya gitu kan,” tuturnya.

Sebagai anggota Komisi V yang membidangi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, Tom memastikan akan mendorong kebijakan tersebut agar PMR menjadi salah satu kegiatan prioritas yang diminati peserta didik di berbagai jenjang sekolah.

“Saya sebagai Komisi V, akan mendorong itu bagaimana PMR ini, menjadi nanti salah satu minat yang bagi, atau minat yang menjadikan prioritas sebagai anak-anak peserta didik di sekolah tingkatan,” ucapnya.

Ia menegaskan, pembinaan relawan tidak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian. Pemerintah, menurutnya, perlu menghadirkan sistem penghargaan yang mampu memotivasi generasi muda agar tertarik terlibat aktif di PMR.

“Bukan hanya membina sedikit relawan, tapi ada reward juga dalam bentuk motivasi untuk fasilitas bagaimana dia sebagai peserta, mendapatkan fasilitas,” katanya.

Tom meyakini, pola kaderisasi berjenjang dari PMR Madya di SMP, PMR Wira di SMA, hingga perguruan tinggi dapat menjadi jawaban atas persoalan regenerasi relawan yang selama ini dinilai semakin sulit.

“Sehingga kalau dari SMP, prestasi PMR, akan mendapat fasilitas untuk di SMA, tadi tidak akan kesulitan lagi, regenerasi di SMA untuk PMR Wira, begitu pun dari SMA ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurut dia, siswa yang sejak awal terbiasa aktif di PMR akan lebih mudah bertahan karena telah memiliki karakter, kebiasaan, dan semangat kerelawanan yang terbentuk sejak dini.

“Yakin kalau mereka sudah basic-nya PMR, pasti mereka akan nyaman di situ, dan merasakan dunianya, habbit-nya akan di situ,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi penurunan relawan yang dinilai cukup mengkhawatirkan, padahal tantangan di masyarakat, termasuk ancaman kebencanaan, terus meningkat.

“Nah sebagai relawan ini, bukan semata-mesipun tadi, ini kesadaran dan paksaan, bukan itu. Kita harus memang mempersiapkan diri juga, sistem kaderisasi, supaya pada saat kita membutuhkan sebuah relawan yang terlatih, tidak menjadi kesulitan lagi. Coba sekarang lihat penurunannya luar biasa,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana