Dua Tahun Hilang Kontak di Arab Saudi, PMI Asal KBB Dikabarkan dalam Bahaya

Kabar adanya Pekerja Migrasi Indonesia (PMI) yang hilang kontak saat bekerja di luar negeri kembali menimpa warga Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dua Tahun Hilang Kontak di Arab Saudi, PMI Asal KBB Dikabarkan dalam Bahaya
ilustrasi

INILAHKORAN, Ngamprah - Kabar adanya Pekerja Migrasi Indonesia (PMI) yang hilang kontak saat bekerja di luar negeri kembali menimpa warga Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Nasib malang itu menimpa Atikah Binti Nuryadi (49) warga Kampung Sekip RT01/08, Desa/Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kabar tersebut dibenarkan anak Atikah, yakni Dery Ramandika (29) yang mengaku tak pernah mendengar secara langsung dari sang ibu selama hampir dua tahun terakhir.

Menurutnya, Atikah hilang kontak sejak diketahui PMI dan menjadi asisten rumah tangga (ART) di Arab Saudi.

"Awalnya mamah emang nita buat kerja di Arab Saudi pada Mei 2022," kata Dery saat dikonfirmasi, Senin 15 Juli 2024.

Kendati demikian, sambung Dery, dari pihak keluarga tidak ada yang mengizinkannya. Namun dirinya kaget lantaran tiba-tiba mengetahui ibunya sudah berada di Arab Saudi awal Juni 2022. 

"Saya gak mengizinkan, awal Juni udah di Cianjur bilangnya lagi main sama uwak jadi curiga awalnya, tau-tau udah di Dubai," ujarnya.

"Gak ada yang nganter. Saya bingung siapa yang mengizinkan," ucapnya.

Kemudian, lanjut Dery, mengetahui sang ibu sudah berada di Arab Saudi dirinya pun langsung menghubungi sang ibu lantaran masih bisa berkomunikasi saat itu 

Kepada Dery, Atikah mengaku secara resmi melalui sponsor atau perusahaan. Namun, Dery sempat curiga lantaran ibunya tak langsung disalurkan ke majikannya.

"Saya curiga karena tahu mamah berangkat jadi PMI hanya menggunakan visa ziarah," ucapnya.

Dery mengaku, hal itu membuat dirinya semakin curiga ibunya berangkat secara ilegal dan diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

"Saya curiga awalnya saya nanya ke mamah pakai visa paspor apa. Pakai visa ziarah. Kan itu ilegal, aduh ini bahaya," imbuhnya.

Enam bulan setelahnya, Dery mengaku hilang kontak dengan sang ibu. Awalnya, Dery  masih berfikir positif lantaran ibunya pernah mengatakan sibuk mengurus anak majikannya sehingga jarang menggunakan ponsel. 

Namun, sambung Dery, keluarga semakin khawatir lantaran majikan ibunya juga tidak bisa dihubungi.

"Diawal maksimal sebulan sekali ada kontak, tapi enam bulan kemudian lose gak ada gak kabar. Majikannya juga gak aktif, sponsor gak tau siapa," ujarnya.

Saat ini, ungkap Dery, pihaknya tengah berusaha untuk mencari sponsor atau perusahaan yang memberangkatkan ibunya namun selalu buntu. 

Dery pun kemudian menghubungi uwaknya yang juga merupakan PMI yang bekerja di Arab Saudi. Dari uwaknya, Dery memperoleh informasi penyalur ke luar negeri yang bernama Haji Riki Rinata di wilayah Cianjur.

"Setelah dicari tahu pria bernama Riki itu sudah ditangkap polisi terkait dengan kasus TPPO," ucapnya.

Tak hanya itu, Dery mengaku sempat juga  bertemu dengan mantan istri sosok penyalur itu yang menginformasikan Riki telah masuk Lapas Cianjur. 

"Saya bingung harus kemana lagi. Namun, saya masih berpikir positif ibunya akan pulang karena saat masih berkomunikasi kontraknya bekerja hanya dua tahun," sebutnya.

"Mamah seharusnya pulang pada Juni 2024, namun kenyataannya sama sekali tidak ada kabar kepada pihak keluarga soal kepulangannya," ujarnya.

Setelah hampir putus asa, Dery pun menerima informasi dari grup Facebook warga yang pertama kali dilihat adiknya yang menuliskan alamat dan patokan rumah majikannya. 

Kabar tersebut muncul dari rekan kerja Atikah yang berada di Jeddah. Mereka sempat bertemu dalam sebuah acara di sana.

"Alhamdulillah ada titik terang. Kemudian saya minta kontak, gak lama nelepon. Menjelaskan bahwa ketemu sama ibu saya gak sengaja. Katanya tangannya biru-biru, berarti ibu saya dalam bahaya," ungkapnya.

Tak cukup sampai di situ, lanjut Dery, dirinya pun terus melakukan pencarian hingga melaporkannya kepada Gerhana Pro, sebuah lembaga advokasi, konsultasi serta pendampingan dan perlindungan hukum PMI. 

Dery mengaku, telah memberikan data-data terkait dengan keberadaan ibunya di Arab Saudi. Selain itu, Dery juga mendatangi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB untuk melaporkan kasus tersebut dan menyerahkan data-data yang sama.

"Kami berharap mamah bisa segera dipulangkan. Termasuk gajinya pun bisa diberikan secara penuh. Sebab, saya dapat informasi selama ini majikannya tidak memberikan hak kepada ibunya secara penuh," ujarnya.*** 


Editor : JakaPermana