Dugaan Penganiayaan Petugas Perkebunan di Pangalengan, Korban Desak Polisi Bertindak
Asisten Afdeling PTPN I Regional 2 Malabar, Sahdida Mukhtadin, mendesak polisi mengusut dugaan penganiayaan saat kericuhan di perkebunan teh Pangalengan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Sahdida Mukhtadin, Asisten Afdeling Kertamanah Perkebunan Teh PTPN I Regional 2 Malabar, mendesak kepolisian mengusut tuntas dugaan penganiayaan terhadap dirinya saat kericuhan terkait perusakan tanaman teh produktif di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Sahdida meminta penyidik mendalami dugaan keterlibatan seorang pria berinisial M dalam insiden yang terjadi pada Rabu (28/10/2026). Menurut pengakuannya, pria tersebut berada di tengah kerumunan massa ketika tim keamanan perkebunan hendak menyerahkan sembilan orang terduga pelaku perusakan tanaman teh ke Polsek Pangalengan.
Sahdida mengaku melihat langsung keberadaan M di lokasi kejadian. Dia juga menyebut rekaman video yang beredar memperlihatkan sosok yang diduga M masuk ke tengah kerumunan dan melakukan gerakan pemukulan ke arah bagian belakang kepalanya.
"Akibat penganiayaan itu, bagian belakang kepala saya luka lebam dan memar. Kejadian ini sudah kami laporkan kepada pihak kepolisian. Hasil visumnya juga sudah ada dan menyatakan benar terdapat luka lebam akibat pukulan," kata Sahdida kepada INILAHKORAN, Minggu (8/11/2026).
Atas kejadian tersebut, Sahdida meminta kepolisian segera menindaklanjuti laporan dan mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Korban Jalani Visum dan Pemindaian Kepala
Sahdida menceritakan, ketika bagian belakang kepalanya terkena pukulan, dia spontan menoleh ke arah belakang. Saat itu, dia mengaku melihat sosok yang diduga M berada tidak jauh darinya.
Menurut Sahdida, keterangan sejumlah saksi juga disebut menguatkan keberadaan pria tersebut di lokasi kericuhan.
"Iya, di video yang beredar juga terlihat dia masuk ke dalam lingkaran itu. Seolah-olah menjadi provokator pemukulan sambil melompat untuk memukul dari atas. Tapi pukulannya mengenai kepala bagian belakang saya. Saya kemudian mundur keluar," ujarnya.
Setelah kejadian, Sahdida menjalani pemeriksaan medis, termasuk visum dan pemindaian atau scan kepala untuk memastikan tidak terdapat cedera serius.
Dia menyebut hasil pemindaian tidak menunjukkan kerusakan serius. Namun, hasil visum menunjukkan adanya luka lebam yang telah diserahkan kepada kepolisian sebagai bagian dari bukti laporan.
"Hasil scan alhamdulillah tidak terjadi kerusakan yang parah di kepala saya. Namun, hasil visum menunjukkan adanya luka lebam. Hasil visumnya sudah ada di pihak kepolisian," katanya.
Terkait perkembangan perkara, Sahdida mengaku telah dimintai keterangan oleh penyidik. Untuk sementara, laporan yang disampaikan baru menyebut satu orang terduga pelaku berinisial M.
Meski demikian, dia berharap kepolisian mengembangkan penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak lain yang diduga terlibat dalam intimidasi maupun perusakan kendaraan milik perkebunan.
"Sementara kita laporkan satu orang berinisial M. Karena mereka banyak, ada massa dari luar yang tidak kami kenal. Dari inisial M ini, mungkin nanti pihak polisi bisa mengembangkan kepada pelaku lainnya," tuturnya.
Kericuhan Bermula dari Perusakan Tanaman Teh Produktif
Sebelumnya, perusakan tanaman teh produktif milik PTPN I Regional 2 di Blok Cijeumpe 2, Kecamatan Pangalengan, dilaporkan terjadi dua kali, yakni pada Senin (26/10/2026) dan Rabu (28/10/2026).
Pada kejadian pertama, sekitar 17 orang diduga merusak tanaman teh produktif di lahan seluas kurang lebih 0,4 hektare. Akibatnya, sekitar 5.000 pohon teh dilaporkan mengalami kerusakan.
Dua hari kemudian, perusakan kembali terjadi di lokasi yang sama. Kali ini, sekitar 25 orang diduga melakukan perusakan menggunakan gergaji.
Tim perkebunan bersama petugas keamanan kemudian mendatangi lokasi dan mengamankan sembilan orang yang diduga terlibat. Mereka rencananya diserahkan ke Polsek Pangalengan untuk menjalani proses hukum.
Namun, dalam perjalanan menuju kantor polisi, kendaraan yang membawa sembilan orang tersebut dihadang sekitar 200 orang. Massa yang disebut mengaku berasal dari Aliansi Petani Pangalengan (APP) diduga meminta pihak perkebunan menyerahkan orang-orang yang telah diamankan.
Penghadangan itu kemudian berujung kericuhan. Selain ban kendaraan dilaporkan digembosi dan kendaraan mengalami kerusakan, Sahdida juga mengaku menjadi korban pemukulan.
Di tengah situasi tersebut, sembilan orang yang sebelumnya diamankan dilaporkan berhasil melarikan diri. Sementara itu, Sahdida dievakuasi ke Polsek Pangalengan untuk menghindari situasi yang semakin memanas.
Hingga kini, Sahdida berharap kepolisian menindaklanjuti laporan dugaan penganiayaan tersebut, termasuk memeriksa rekaman video dan keterangan saksi untuk mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kericuhan di kawasan perkebunan teh Pangalengan.***
Editor : JakaPermana

