Ekosistem Terganggu, Monyet Liar Turun ke Permukiman Warga di KBB

Kasus turunya monyet liar ke permukiman warga di wilayah Bandung Barat menjadi perhatian penting Dinas Perikanan dan Peternakan KBB.

Ekosistem Terganggu, Monyet Liar Turun ke Permukiman Warga di KBB
Ilustrasi monyek turun ke permukiman warga.

INILAHKORAN, Ngamprah - Kasus turunnya monyet liar ke permukiman warga di wilayah Bandung Barat menjadi perhatian penting Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pasalnya, hal itu terjadi lantaran ekosistemnya yang terganggu sehingga monyet-monyet tersebut turun ke permukiman warga untuk mencari makanan.

Menyikapi hal itu, Kepala Dispernakan KBB Undang Husni Thamrin meminta masyarakat agar tidak membeli dan memelihara satwa langka, terlebih satwa yang dilindungi.

Baca Juga: Duh, UMK KBB Hanya 3 Persen, Serikat Buruh Sebut Pemda KBB Terindikasi Pro PP36/2021

Menurut Undang Husni Thamrin, jika masyarakat menyukai berbagai satwa langka, pihaknya menyarankan agar berkunjung ke kebun binatang.

"Di sana bisa dengan leluasa melihat beragam satwa yang langka, bahkan jarang kita lihat," katanya pada Rabu, 6 Oktober 2021.

Undang Husni Thamrin menyebut, banyak hewan yang dilarang untuk dipelihara dan jangan sampai dipelihara lantaran bisa memutus rantai ekosistem di habitat aslinya.

Baca Juga: Tak Pernah Hadiri Rapat, Plt Bupati KBB Hengky Kurniawan Dituding Langgar UU LKS Tripartit

"Pelarangan membeli dan memelihara satwa langka tersebut, menjadi salah satu kampanye bertepatan dengan peringatan Hari Hewan se-Dunia, pada 4 Oktober 2021," sebutnya.

Undang Husni Thamrin menjelaskan, kampanye yang disuarakan pada Hari Hewan Sedunia itu syarat akan pesan moral berkaitan erat dengan anjuran menjaga ekosistem lingkungan.

Oleh karenanya, sambung dia, masyarakat harus peduli terhadap satwa dengan menjaga lingkungannya. Apabila satwa diambil dari ekosistemnya, maka  ada rantai makanan akan terputus.

Baca Juga: Disperindag KBB Kebingungan, Aplikasi PeduliLindungi Belum Bisa Diterapkan di Pasar Tradisional

"Itu akan mengancam keselamatan manusia juga," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti menyebut, rusaknya lingkungan dan ekosistem satwa akan berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia.

Menurut Wiwin Aprianti, dengan adanya satwa liar di permukiman warga bisa membawa ancaman penularan penyakit zoonosis, baik itu EID (Emerging Infectious Disease) maupun Re-EID, penyakit yang sudah lama tidak ada, kemudian muncul kembali.

"Semakin hewan liar atau satwa langka itu dekat dengan kita, semakin kita beresiko tinggi terhadap tertularnya penyakit zonosis," bebernya.

Wiwin Aprianti menerangkan, zonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan pada manusia atau sebaliknya. Sebagai contoh, monyet bisa mengidap penyakit TBC, yang bisa menular pada manusia, burung liar bisa terinfeksi penyakit Avian Influenza, yang dapat menyebabkan kematian pada manusia.

Oleh karenanya, ia meminta agar masyarakat tidak mengganggu hewan langka atau liar.

"Sayangi hewan, lindungi keluarga dengan cara/lestarikan lingkungan. Kemudian edukasi anak-anak kita dengan cara berkunjung ke kebun binatang," pungkas Wiwin Aprianti.*** (agus satia negara)


Editor : inilahkoran