Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Kabupaten Bogor

Sebagian potensi ekowisata itu, selain garis pantai dan satwa lainnya, ada di Kabupaten Bogor.  

Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Kabupaten Bogor
Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Kabupaten Bogor

INILAHKORAN, Bogor - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati dan budaya terbesar di dunia. 

Dari ratusan gunung berapi, garis pantai sepanjang puluhan ribu kilometer, hingga satwa endemik seperti harimau, uwa jawa, surili, binturong, macan tutul, ular naga jawa, badak hingga gajah, serta semuanya yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekowisata.

Sebagian potensi ekowisata itu, selain garis pantai dan satwa lainnya, ada di Kabupaten Bogor.  

Baik di wilayah selatan Gunung Gede Pangrango, di wilayah selatan - barat, Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan wilayah Timur Gunung Batu dan Gunung Luhur.

Namun, potensi ekowisata ini dinilai belum tergarap optimal. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Ricky Avenzora, menyebut pariwisata ekowisata di Kabupaten Bogor masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

“Kita punya kekayaan luar biasa, tetapi yang muncul justru konflik manusia dengan satwa liar, kerusakan alam, dan distribusi manfaat pariwisata yang tidak adil. Masyarakat kecil hanya mendapat 'recehan’,” sebut Prof. Ricky Avenzora kepada wartawan, Sabtu, 27 September 2025.

Prof. Ricky Avenzora menuturkan, bahwa ekowisata adalah solusi dan harus diubah menjadi perjalanan berkesadaran yang memberi manfaat bagi semesta. 

"Itulah ekowisata,” tuturnya.

Ia juga menyoroti potensi kesenian dan budaya daerah yang belum digarap serius, seperti seni bela diri, permainan tradisional, hingga ribuan folklor.

"Kabupaten Bogor juga harus mengembangkan industri kreatifnya," tambahnya.

Menurut Prof. Ricky Avenzora, ada tiga persoalan besar yang menghambat pariwisata di Kabupaten Bogor, agar  jumlah wisatawannya tidak kalah dari daerah lainnga.

"Potensi alam dan budaya janga  mengalami kerusakan, lalu manfaat pariwisata lebih banyak dinikmati kelompok menengah-atas, sementara masyarakat kecil jauh ertinggal,"  tuturnya.

Ia juga mendorong pengembangan pariwisata harus bergeser dari sekadar membangun fasilitas untuk turis menuju pembangunan yang berpihak pada masyarakat lokal. 

Ia juga menekankan pentingnya peran sektor swasta sebagai inkubator bisnis komunal, seperti yang dilakukan oleh Eiger Adventure Land. 

“Indonesia hanya punya sedikit pengusaha wisata menengah-atas yang konsisten mengembangkan ekowisata. Eiger adalah salah satunya, dan semestinya didukung penuh pemerintah,” katanya.

Ia melanjutkan, bahwa ekowisata bukan hanya tentang menjaga alam, tapi juga cara untuk menemukan jati diri, melestarikan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.


Editor : Firda Rachmawati