Investasi yang Menyulam Harapan di Megamendung, dari Konflik Agraria ke Ekowisata Berkelanjutan
Masuknya investasi, seperti Eiger Adventure Land membawa berkah tersendiri untuk Kecamatan Megamendung, dan Kawasan Puncak khususnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Masuknya investasi, seperti Eiger Adventure Land membawa berkah tersendiri untuk Kecamatan megamendung, dan Kawasan Puncak khususnya.
Ada kisah panjang dari rindang pepohonan dan derasnga arus wisatawan di megamendung, bagaimana wilayah yang dulu terdapat konflik agraria karena pencaplokan lahan milik PT. Perkebunan Nusantara I Wilayah II menjadi destinasi ekowisata berkelanjutan.
“Dampaknya ada dua. Pertama, penggundulan kebun teh dan hutan yang dikuasai PT. Perkebunan Nusantara I Wilayah II, Kedua, muncul sengketa lahan, padahal tanah itu milik negara. Dua persoalan ini berlangsung cukup lama,” tutur Camat megamendung Ridwan kepada wartawan, Kamis, 9 Oktober 2025.
Ridwan menerangkan, banyak pesona wisata di wilayahnya bukanlah hasil kreasi instan, tetapi terbentuk secara alami sejak dahulu
“Destinasi wisata di Kecamatan megamendung bukan dibuat, tetapi terbentuk secara alami sejak dahulu. Baru belakangan ini semakin ramai karena adanya langkah pemerintah dan masuknya investor,” terang Ridwan.
Ridwan, yang merupakan putra daerah, masih mengingat jelas situasi pasca-Reformasi 1998 ketika terjadi penyerobotan lahan negara oleh berbagai pihak.
Kondisi itu sempat membuat pemerintah pusat maupun daerah kewalahan, lahan negara rusak, konflik agraria tak kunjung selesai, sementara ekonomi warga stagnan. Namun, dua dekade kemudian wajah megamendung mulai berubah.
“Sejak saya menjabat camat pada 2023, tidak ada lagi laporan persengketaan tanah. Ini dampak positif dari masuknya investasi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, beberapa investor besar seperti Eiger Adventure Land (EAL) dan Gym Station Indonesia (GSI) membawa empat manfaat utama, yakni tanah negara yang sempat diserobot kembali ke negara, kawasan gundul direboisasi, investor berkontribusi kepada negara dan Warga memperoleh lapangan pekerjaan.
“Yang paling penting, mereka peduli terhadap lingkungan hidup. Contohnya, Sungai Cisuka di wilayah ini tidak pernah banjir meski ada pembangunan,” jelasnya.
Mantan Sekcam Cariu ini menilai pola investasi semacam ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja.
“Hilirisasi investasi di sini salah satunya melalui pebyerapan ketenagakerjaan terutama warga sekitar. Itu membantu mengurangi pengangguran, mengentaskan angka kemiskinan dan sebagainya," tambah Ridwan.
Dari perspektif akademik, Pakar Perencanaan Wilayah dan Kota dari Universitas Pakuan M Yogie Syahbandar menilai Bumi Tegar Beriman memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.
“kabupaten bogor memiliki potensi wisata alam yang sangat beragam—mulai dari pegunungan, pertanian, gua, hingga hutan. Karakteristik pedesaannya yang kuat menjadikannya ideal untuk wisata berbasis pemberdayaan masyarakat lokal,” jelasM Yogie Syahbandar.
Namun, Yogie menegaskan, pengembangan ekowisata tidak bisa dilakukan secara serampangan.
“Harus diperhatikan aspek sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, serta tata kelola kelembagaan dan infrastruktur. Termasuk promosi dan pembentukan kelompok ekowisata sebagai penggerak lokal,” tegasnya.
Menurutnya, keterlibatan korporasi seperti Eiger Advebture Land, dan induk maupun anak usahanya justru bisa mempercepat proses pengembangan ekowisata.
“Dalam konsep triple helix, harus ada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pengusaha. Korporasi bisa berperan dalam inkubasi, percepatan, maupun pelaksanaan program ekowisata. Yang penting, koridor sosial, ekonomi, dan lingkungan tetap dijaga,” paparnya.
Aggota DPRD kabupaten bogor Fahirmal Fahim mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penataan kawasan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kawasan Puncak bukan hanya destinasi wisata, tapi juga sumber penghidupan bagi ribuan warga. Karena itu, kami berharap pemerintah memberi ruang transisi dan pendampingan bagi para pelaku usaha yang sedang melengkapi izin atau menyesuaikan dengan ketentuan,” ujar Fahirmal Fahim.
Fahirmal Fahim menegaskan, pihaknya akan terus mengawal agar kebijakan pembangunan tetap berpihak pada warga tanpa mengorbankan lingkungan.
“Kami percaya, kebijakan yang baik adalah yang mampu melindungi alam sekaligus menyejahterakan masyarakat,” tegasnya.
Atang (70), warga Sukagalih, megamendung yang sejak 2019 bekerja sebagai gardener di kawasan ekowisata Eiger Adventure Land menjadi saksi perubahan lahan tandus menjadi hijau kembali.
“Saya diajari cara menanam dan merawat tanaman yang cocok di sini. Kami diajarkan pentingnya menjaga alam. Pohon yang saya tanam tiga tahun lalu sekarang sudah besar. Tapi tempat kerja saya disegel, hingga penghasilan saya terganggu,” lirih Atang .
Atang dan dua anaknya yang juga bekerja di Eiger Adventure Land berharap pemerintah meninjau kembali kebijakan penutupan dengan bijaksana.
“Lihatlah dengan mata hati, pembangunan ekowisata di kampung kami membawa kebahagiaan bagi banyak warga megamendung,” harapnya.
Editor : Ahmad Sayuti


