Fakta Lain Korban Human Trafficking Asal Cimahi, Sang Ayah Sempat Ingatkan Hal Ini
Alasan Noviana Indah Susanti (37) seorang warga Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi yang menjadi korban Human Trafficking di wilayah konflik Myanmar diungkap Joko Supriatno.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, CImahi - Alasan Noviana Indah Susanti (37) seorang warga Kelurahan Baros, Kecamatan CImahi Tengah, Kota CImahi yang menjadi korban Human Trafficking di wilayah konflik Myanmar diungkap Joko Supriatno.
Sebelum berangkat, Joko telah mengingatkan Noviana agar lebih teliti dan memastikan agen yang menawarkan pekerjaan ke luar negeri tersebut benar-benar jelas dan resmi.
Namun, karena kondisi ekonomi yang mendesak mengingat status Noviana merupakan single parent, ia tetap keukeuh berangkat menuju Thailand sebagaimana dijanjikan perusahaan penyalur tenaga kerja tersebut.
"Saat Novi bercerita ditawari pekerjaan sebagai Customer Service Marketing di Thailand, saya saya sempat menanyakan legalitas dan proses pemberangkatannya. Tapi, Novi gak mau menyebut," kata Joko kepada wartawan belum lama ini.
Tah hanya itu, Joko mengakui telah mengingatkan sang anak untuk berhati-hati lantaran perusahaan yang menawarinya bekerja itu ilegal.
"Kalau perusahaan ilegal khawatirnya gak bisa ngasih jaminan keselamatan dan melindungi Novi sebagai pegawai migran Indonesia (PMI) di luar negeri," ujarnya.
"Tapi, Novi tetap berangkat karena kebutuhan, soalnya anak saya itu single parent yang harus menghidupi anaknya," sambungnya.
Ia menyebut, kecurigaannya semakin kuat lantaran pada 23 Oktober 2022 lalu, Novi dan PMI lainnya dilarang berkomunikasi dengan pihak keluarga saat ditampung di Bekasi.
"Besoknya mereka tiba di Thailand san setelah di sana kita hilang kontak selama tiga minggu. Saya makin khawatir karena apa yang saya pesankan agar bisa komunikasi setiap hari tidak ada jawaban," sebutnya.
Kemudian, sambung dia, pada minggu keempat saat berada di Myanmar, dirinya baru mendapatkan kabar dari Novi dan mengaku menjadi korban Human Trafficking.
"Sebagai orang tua saya sangat terpukul dan bingung karena memang Novi sendiri yang mengaku dia jadi korban Human Trafficking," terangnya.
Pihak keluarga semakin terpukul dan sedih saat Novi menceritakan dirinya dan 52 PMI, termasuk pekerja asing yang mengalami penyiksaan di tempatnya bekerja.
Tak hanya itu, sambung dia, para pekerja tersebut juga mendapat penyiksaan berupa pencambukan hingga penyetruman.
Bahkan, semua alat komunikasi disita dan sekarang hanya mengandalkan satu yang lolos pegang HP.
"Nah, itu perkembangan terakhir anak-anak sudah mulai drop karena dikurung selama tujuh hari gak dikasih makan dan minum," paparnya.
"Di sana juga dijaga ketat oleh orang berpakaian militer, beberapa yang mencoba kabur ditembak dan organnya itu dijual ke China," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana

