Tergiur Bekerja di Thailand, Warga Asal Cimahi jadi Korban Human Trafficking di Wilayah Konflik Myanmar

Nasib pilu harus dialami Noviana Indah Susanti (37) seorang warga Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi yang menjadi korban Human Trafficking di wilayah konflik Myanmar setelah sebelumnya diiming-imingi bekerja  di Thailand.

Tergiur Bekerja di Thailand, Warga Asal Cimahi jadi Korban Human Trafficking di Wilayah Konflik Myanmar
Nasib pilu harus dialami Noviana Indah Susanti (37) seorang warga Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi yang menjadi korban Human Trafficking di wilayah konflik Myanmar setelah sebelumnya diiming-imingi bekerja  di Thailand./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Cimahi - Nasib pilu harus dialami Noviana Indah Susanti (37) seorang warga Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi yang menjadi korban human trafficking di wilayah konflik myanmar setelah sebelumnya diiming-imingi bekerja  di Thailand.

Fakta tersebut terungkap berdasarkan pengakuan korban kepada keluarga melalui alat komunikasi yang disembunyikan dan luput dari pemeriksaan petugas ilegal yang kerap menenteng senjata jenis laras panjang di tempat Novi bekerja.

Ayah Noviana, Joko Supriatno mengaku, pihak keluarga telah hilang kontak dengan Novi selama tiga pekan. Namun, pada pekan keempat, dirinya baru mendapatkan kabar dari Novi dan mendapat kabar sang anak bersama 20 orang lainnya menjadi korban Human Trafficking atau Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di wilayah Myawaddy, Myanmar.

Kemudian, lanjut dia, pihaknya memastikan pekerjaan yang dijanjikan agen kepada sang anak untuk bekerja sebagai Customer Service Marketing di Thailand ternyata hanya iming-iming belaka untuk menipu para korban.

"Kata Novi, ketika sampai di Thailand justru para rombongannya dibawa lagi melalui jalur ilegal dari Thailand ke Myawaddy, Myanmar," kata Joko kepada wartawan, Rabu 3 Mei 2023.

Joko menjelaskan, berawal dari adanya lowongan pekerjaan dari online yang menjanjikan, Noviana pun ikut mendaftar dan mengisi formulir, wawancara kerja, serta bertemu dengan agen yang mengurus keberangkatan.

 "Tapi dari kita keluarga memang ada merasa janggal karena prosesnya itu singkat banget," ujarnya.

"Anehnya lagi, dari agennya itu visa wisata bukan visa kerja yang katanya akan dibikinin setelah Novi kerja di luar negeri," imbuhnya.

Berdasarkan penuturan Novi, sambung Joko, bersama orang-orang yang berasal dari berbagai daerah, termasuk dari negara lain pun dipekerjakan sebagai Scammer (penipu online).

"Novi dan yang lainnya terpaksa harus nurut karena kalau tidak mendapat korban bahkan kalau nolak ada sanksinya. Mereka akan mendapatkan siksaan berupa exercise, pencambukan, bahkan sampai penyetruman," tuturnya.

"Mereka itu diwajibkan untuk mendapat target, kalau gak dapat, resikonya ya, disiksa," ungkap Joko seraya tak kuasa membendung tangis.

Lebih lanjut Joko menjelaskan, dari pengakuan sang anak, setiap pekerja yang kedapatan menggunakan telepon atau menghubungi orang luar bakal mendapat siksaan dan di tempatkan di tempat khusus.

"Sejak hari raya sudah tujuh, hp anak-anak di sana disita semua. Sekarang hanya mengandalkan satu yang lolos pegang hp," jelasnya.

"Nah itu perkembangan terakhir anak-anak sudah mulai drop karena dikurung selama tujuh hari gak dikasih makan dan minum," terangnya.

Tak hanya itu, penjagaan di sana dilakukan dengan ketat oleh orang yang berpakaian militer. Bahkan, ada sejumlah orang yang mencoba kabur langsung ditembak.

"Mirisnya organ tubuhnya itu dijual ke China," ucapnya.

Mengingat banyaknya korban yang terjebak di Myawaddy, Myanmar, Joko menyebut, keluarga korban di daerah lain sudah melaporkan kejadian tersebut ke Mabes Polri, Kementerian Luar Negeri, serta ke Kementerian Hukum dan HAM.

"Harapan kami, bukan Novi saja tapi ada 52 warga Indonesia yang terjebak dan dieksploitasi disana, saya mengharapkan bapak Presiden Jokowi beserta jajarannya, menteri terkait, segala kedinasan yang terkait, ini anak-anak kami sudah pada drop dan nyawa mereka terancam," sebutnya.

"Kami mohon mereka sudah pada drop pada dehidrasi," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : JakaPermana