Farhan: Bandung Initiative Perkuat Kesiapan Kota Bandung Masuk Ekosistem PFII

Kota Bandung memperkuat kesiapan masuk dalam ekosistem Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) melalui Bandung Initiative. 

Farhan: Bandung Initiative Perkuat Kesiapan Kota Bandung Masuk Ekosistem PFII
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan gagasan Bandung Initiative. (yogo triastopo)

INILAHKORAN.ID - Kota Bandung memperkuat kesiapan masuk dalam ekosistem Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) melalui Bandung Initiative

Kolaborasi pemerintah, dunia usaha dan mitra teknologi menjadi bagian dari upaya membangun mesin pertumbuhan ekonomi baru.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, Bandung Initiative menunjukkan pembangunan ekosistem ekonomi dapat dimulai dari kolaborasi berbagai pihak. Seluruh pelaku perlu berkumpul, menyamakan visi lalu membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan.

“Tentu saya menyambut semua, terutama mereka yang menandatangani Inisiatif Bandung. Ini adalah contoh yang sangat bagus, tentang bagaimana kita membangun ekosistem dari bawah ke atas,” kata Farhan, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, pemerintah memiliki peran dalam menyiapkan regulasi, kebijakan dan deregulasi yang mampu menciptakan ruang bagi dunia usaha. Namun, pertumbuhan ekonomi tetap harus memberi manfaat bagi masyarakat.

“Ekosistem dibangun secara ideal dari bawah ke atas, di mana kita mengumpulkan seluruh pelaku. Harus kumpul dulu, bersepakat, baru bikin lingkungan,” ucapnya.

Dia menyebut, Kota Bandung memiliki potensi ekonomi besar. Pertumbuhan ekonomi sebelum pandemi Covid-19, pernah mencapai 7,2 persen. Saat ini pertumbuhan ekonomi Kota Bandung berada di kisaran 5,76 persen. Kondisi itu, membutuhkan mesin pertumbuhan baru agar ekonomi kota dapat kembali tumbuh lebih cepat.

“Sekarang kita merayap di 5,76. Kita belum balik ke kapasitas penuh kita. Jadi kita perlu tumbuh secara cepat,” ujar dia.

Farhan juga menyoroti aspek kepastian hukum dalam pengembangan PFII. Kota Bandung perlu memiliki landasan hukum yang jelas, sebelum menjalankan berbagai kebijakan dan program ekonomi baru.

Sambung dia, Bappenas telah memberikan masukan agar Kota Bandung masuk dalam aglomerasi PFII bersama Jakarta. Langkah itu, dinilai memberi posisi hukum bagi Kota Bandung dalam ekosistem finansial internasional.

“Bappenas sebenarnya menyarankan kita membuat Bandung, sebagai bagian dari aglomerasi PFII dengan Jakarta. Kita akan menjadi bagian dari itu,” tuturnya.

Selain PFII, Farhan memaparkan sejumlah fondasi yang akan dikembangkan mulai dari kesiapan investor, optimalisasi aset strategis, transparansi berbasis blockchain, pengembangan talenta digital hingga kendaraan listrik.

Dia juga menekankan pentingnya literasi blockchain. Penerapan teknologi baru, harus diikuti pemahaman masyarakat agar manfaat transformasi ekonomi digital dapat dirasakan lebih luas.

“Saya bukan orang yang melek teknologi. Saya bahkan tidak tahu apa yang kita bicarakan, ketika kita bicara tentang blockchain. Tapi saya bukan satu-satunya. Saya adalah salah satu dari dua juta orang di Bandung yang juga tidak mengerti ini,” ujar dia.

Farhan kemudian menegaskan, pengembangan ekosistem ekonomi baru harus berjalan bersama penataan dan penegakan aturan. Pemerintah akan membuka ruang melalui deregulasi, namun pelaku usaha tetap wajib mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Kita hanya akan menjadi pemberi kemudahan dan penegak. Di tengah-tengah, silakan para pebisnis yang masuk semuanya,” ucapnya.

Dia juga mengingatkan, agar pengembangan ekonomi digital berbasis blockchain tidak berubah menjadi gelembung ekonomi. Transformasi teknologi, diharapkan menghasilkan aktivitas ekonomi nyata dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kita akan memastikan, bahwa kita sedang membangun basis dari blockchain ini di Bandung menjadi ekonomi blockchain nyata pertama di Indonesia,” ujar dia.

Sedangkan, Founder Irwata Sabdo Yusmintiarto mengatakan Bandung Initiative lahir sebagai respons terhadap gagasan wali kota mengenai Kota Bandung sebagai bagian dari PFII

“Kalau misalnya cuma seorang wali kota yang berinisiatif, rasanya akan berat dan mungkin enggak bisa ke mana-mana. Karena itu kami dari Irwata, menginisiasi untuk menjawab pernyataan tersebut dengan menyatakan sebuah komitmen untuk turut membantu investasi atau pertumbuhan,” kata Sabdo.

Dia menyatakan, PFII dapat menjadi salah satu mesin ekonomi baru bagi Kota Bandung. Konsep itu diarahkan pada kemudahan masuknya modal dari luar negeri, sekaligus pengembangan infrastruktur finansial berbasis teknologi.

Sabdo juga memperkenalkan stablecoin NIDR yang dikembangkan perusahaannya. Teknologi blockchain, dapat menjadi bagian dari infrastruktur finansial yang mendukung transaksi lintas negara.

“Dengan PFII, kita berharap bisa punya infrastruktur sendiri untuk memasukkan uang dari luar ke Kota Bandung,” ucapnya.

Dia menilai, Kota Bandung membutuhkan mesin ekonomi baru karena pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan sektor yang sudah berjalan. Bandung Initiative, diharapkan menghasilkan proposal yang menunjukkan kesiapan kota. Bukan sekadar menyampaikan keinginan.

“Kita ingin bilang Bandung ini bukan sekadar punya keinginan. Tapi sudah siap, sudah ada komitmennya,” ujar dia.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Sinergi Satu Daya Sean Justin mengatakan perkembangan teknologi membuka peluang baru bagi Kota Bandung. AI, blockchain, energi hijau dan kendaraan listrik sebagai sektor yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Ketika beberapa bulan ke belakang kita mulai membahas adanya perencanaan membangun Kota Bandung melalui industri berbasis AI, blockchain, green energy dan lainnya. Ini menjadi antusiasme yang personal sekali bagi saya,” kata Sean Justin.

Menurutnya, perusahaannya telah masuk ke industri kendaraan listrik sekaligus mengembangkan ekosistem pendukung. Langkah itu mencakup penyediaan kendaraan, infrastruktur pengisian daya dan teknologi mitigasi risiko.

Sambungnya, transisi menuju kendaraan listrik tidak berhenti pada penggantian kendaraan berbahan bakar fosil. Infrastruktur, sistem operasional dan aspek keselamatan juga perlu dipersiapkan sejak awal.

“Seremonial hanyalah sebuah permulaan. Setelah seremonial itu apa? Tentunya kita butuh sebuah perencanaan. Setelah perencanaan apa? Kita butuh action plan atau rencana kerja yang nyata,” ucapnya.

Sean menambahkan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga perlu mempertimbangkan risiko teknologi termasuk potensi kebakaran baterai lithium. Perusahaannya, diakui telah mengembangkan teknologi pemadaman kebakaran baterai sebagai bagian dari mitigasi.


Editor : Doni Ramdhani